April lalu, saya mengunjungi Thailand untuk pertama kalinya. Saat berwisata ke luar negeri, saya biasa menyempatkan diri untuk mengunjungi berbagai lokasi yang menjadi latar anime, atau istilahnya "ziarah anime". Beberapa di antaranya adalah Australia dengan "Free", Singapura dengan "Plastic Memories", Jepang dengan "Haruhi", "Anohana", dan "Kimi no nawa". Bedanya, kali ini saya sedikit bergeser ke film, atau istilahnya "turisme film".
Layaknya anime, yang meski dari Jepang tapi berlatar luar negeri, tentu juga ada film luar yang berlatar Thailand seperti "The Beach" dan "James Bond". Namun, fokus saya kali ini adalah film asli Thailand. Ya, inilah "Lahn Mah", atau yang lebih dikenal dengan judul bahasa Inggrisnya "How to Make Millions before Grandma Dies". Daerah yang dikunjungi mulai dari Ban Prok di Distrik Mueang Samut Songkhram hingga ke Talat Phlu di Distrik Thon Buri.
Kuil tempat Amah menuliskan permohonan
Mari mulai perjalanannya dari tempat yang dikunjungi Amah bersama M dan keluarga Kiang di pertengahan film. Di sini, mereka berdoa dan menempelkan kertas permohonan. Nah, ini adalah kuil Wat Chong Lom di Ban Prok, Mueang Samut Songkhram. Saat saya tiba, pagarnya ditutup sehingga tidak bisa masuk ke dalam. Di pemberhentian pertama ini, saya memang datang di sore hari, karena ingin mencoba bubur bebek legendaris 25 Baht yang dijual dari atas perahu di belakang kuil.
Menemukan lokasi pasti kuil ini cukup menantang, karena berbeda dari Talat Phlu yang populer sebagai tempat rumah Amah, tempat ini jarang dibahas di Internet. AI Gemini pun memberi jawaban yang salah ketika saya menanyakannya. Adanya Google Image Search cukup membantu. Bermodalkan foto cuplikan film dan hasil memeriksa berbagai foto yang mirip dalam hasil pencarian, satu nama mulai mengerucut. Sayangnya, ada banyak kuil bernama Chong Lom di Thailand, tapi akhirnya saya berhasil menemukan yang tepat berkat Google Street View.
Berikut foto-foto kuil dan bubur yang saya sebut tadi. Selain itu, di depan kuil sebenarnya ada juga pasar yang menjual mulai dari makanan, baik yang siap saji, mentah, bahkan untuk keperluan ibadah; sampai ke perlengkapan lainnya.
Naik kereta api menuju dan meninggalkan kuil Wat Chong Lom
Sekarang, mari mengingat kembali bagaimana mereka datang dan pergi. Saat berangkat, keluarga Kiang terlihat ikut naik kereta warna merah, sehingga tampaknya kereta berangkat dari stasiun dekat rumah mereka. Saat pulang, hanya M yang menemani Amah naik kereta warna biru, sehingga tampaknya kereta tiba ke stasiun dekat rumah Amah di mana mereka lalu singgah membeli sepatu. Kesimpulannya, ada dua kereta berbeda di sini.
Tempat tinggal Amah sudah tahu, lokasi kuil juga sudah tahu, salah satu stasiunnya bahkan disebutkan di awal film. Oleh karena itu, tak begitu sulit menemukan rute yang mereka lalui ini. Langsung saja, ini adalah kereta Mae Klong ke Ban Laem (merah), dan Maha Chai ke Wongwian Yai (biru). Rute pertama dengan tiket 10 Baht ditempuh dalam 1 jam. Rute kedua dengan harga tiket yang sama ditempuh dalam 50 menit. Saya menaiki dua kereta ini di hari berikutnya setelah bermalam di penginapan warga dekat Pasar Apung Amphawa.
Berikut foto-foto dalam kereta dan di stasiun yang saya sebut tadi. Di dalam kereta, terlihat pintu keluar, tombol darurat, hingga kursi yang saling berhadapan dengan jendela di atasnya, yang sama dengan yang ada di film. Yang berbeda hanya warnanya, di sana cokelat, di sini biru.

Suasana di dalam kereta berwarna biru yang kursinya juga biru, sama seperti di film — di Stasiun Maha Chai
Mengarungi tantangan moda transportasi: kereta, kapal, bus, hingga truk
Jadi, apa memang semudah itu perjalanan dari Wat Chong Lom ke Talat Phlu? Di film memang hanya kereta yang ditampilkan, tapi sebenarnya ini perjalanan lintas moda. Perjalanan di luar kereta ini yang cukup menantang, apalagi Google Maps tidak bisa mengeluarkan panduan transportasi umum di daerah Mueang Samut Songkhram ini. Namun berkat penduduk lokal, termasuk penjaga penginapan yang bahkan mengantar saya ke tempat naik truk yang tidak ada penandanya sama sekali, saya bisa melanjutkan turisme film ini.
Oke, seperti ini perjalanannya. Dari kuil, kita harus naik jembatan penyeberangan tak jauh dari pasar. Namun berhubung saya memulai perjalanan hari ini dari penginapan, saya sudah berada di sisi lainnya. Dari seberang kuil ini, saya naik semacam truk pikap (disebut songthaew) berwarna biru menuju Stasiun Mae Klong. Dengan ongkos 12 Baht, transportasi umum ini menempuh jarak sekitar 4 kilometer. Di sini, barulah saya bisa naik kereta merah menuju Ban Laem.
Setelah tiba di Stasiun Ban Laem, perjalanan semakin menarik. Soalnya, Ban Laem dan Maha Chai ternyata dipisahkan oleh Sungai Tha Chin! Tak bisa langsung transit kereta begitu saja, tapi perlu berjalan kaki dahulu sekitar 600 meter ke Pelabuhan Tha Chalom, tempat kapal feri tujuan Maha Chai berada. Dengan meluangkan waktu 15 menit dan 3 Baht untuk tiket penumpang tanpa kendaraan pribadi - ya, semurah itu! - kita akan sampai di Pelabuhan Maha Chai di seberang.
Berikut foto-foto kapal dan pelabuhan yang saya sebut tadi. O ya, karena sudah lewat tengah hari, saya makan siang dahulu di restoran tepat depan pelabuhan yang menyajikan hidangan laut segar, termasuk tiram asli. Terlampir juga fotonya.

Kapal feri yang digunakan untuk menyeberangi Sungai Tha Chin menuju Maha Chai — di Dermaga Tha Chalom

Tampak dermaga pelabuhan dari lebih dekat, dengan eceng gondoknya yang membuat kapal tak bisa melaju kencang — di Pelabuhan Maha Chai

Otak-otak ikan dan telur dadar tiram (Ya, dengan daging tiram utuh, bukan saus tiram) — di Restoran Tha Reua 2507
Bersambung...
Perjalanan saya dalam rangkaian turisme film "How to Make Millions before Grandma Dies" ini belum selesai. Pada kesempatan berikutnya, saya akan memceritakan tempat sering dibahas dari film ini. Apa lagi kalau bukan Talat Phlu, daerah tempat Amah tinggal dan berjualan bubur. Jadi, nantikan kiriman Isamu no Heya selanjutnya ya. Namun jika ada yang ingin ditanyakan, bisa tinggalkan komentar di bawah.
Halo, para pembaca Isamu no Heya! Ternyata sudah lima tahun berlalu ya sejak terakhir saya menulis di sini. Jadi, bagaimana kabar kalian? Baik, pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi cerita mengenai perjalanan 








Klik di sini untuk kirimkan komentar
Silakan masukan komentar pada kotak teks yang tersedia, lalu klik tombol biru. Periksa kembali secara berkala untuk menemukan balasan terbaru. Anda mungkin tidak menerima notifikasi saat seseorang membalas komentar.