Stasiun tempat Amah berjualan bubur
Mari lanjutkan perjalanannya. Dari pelabuhan, saya berjalan kaki lagi untuk ke Stasiun Maha Chai, yang untungnya tidak terlalu jauh. Di sini, barulah saya bisa naik kereta biru menuju Wongwian Yai. Talat Phlu berada satu stasiun sebelum tujuan akhir rute. Jadi, jangan sampai kelewatan. Setelah naik kereta selama kurang lebih 45 menit, sampailah saya di daerah tempat Amah tinggal.
Walaupun Stasiun Talat Phlu berada di Bangkok, stasiun ini begitu sederhana, sangat berbeda dari Stasiun Krung Thep yang megah dan modern. Untuk penampakannya cukup sama seperti yang tergambar dalam film. Saat keluar dari stasiun, kita akan disambut oleh 7-Eleven di sebelah kiri. Ini hal yang cukup umum di Thailand, ada stasiun, ada 7-Eleven. Nah, setelahnya saya menemukan deretan toko yang muncul di layar judul, termasuk Mi Sapi Talat Phlu tempat M makan. Jadi memang sedekat itu, tapi karena 7-Eleven tidak disorot dalam film jadi terkesan beda daerah.
Berikut foto-foto stasiun Talat Phlu dan pertokoan di sekitarnya. Dari kanan ke kiri, terlihat pegadaian, toko emas, toko kue, toko mi, hingga ke toko obat dengan susunan yang sama dengan di film. Hanya toko obat yang mengubah papan namanya dari yang berwarna merah-emas menjadi putih-hijau.

Pertokoan dekat stasiun di ujung kiri, dengan toko obat, laundry, dan 7-Eleven yang berada tepat di samping stasiun — di Talat Phlu
Menjelajahi Talat Phlu dan mencicipi makanan khasnya
Di hari pertama mengunjungi Talat Phlu, saya hanya sempat mengambil foto sekitar stasiun. Setelahnya, saya menjelajahi pusat kota Bangkok dan juga melihat festival Songkran, perayaan tahun baru Thailand yang dimeriahkan dengan perang air. Lebih lanjut mengenai hal ini, termasuk perjalanan delapan hari saya berkeliling Thailand, mulai dari wilayah Lanna di utara (termasuk Chiang Mai) hingga ke wilayah Dvaravati di pusat (termasuk Samut Songkhram di selatan Bangkok yang sudah saya bahas sebelumnya), mungkin akan saya bagikan pada kiriman terpisah.
Melanjutkan perjalanan Lahn Mah, saya kembali lagi ke Talat Phlu dua hari setelahnya untuk mengeksplorasi lebih jauh. Toko yang pertama saya kunjungi adalah Mi Sapi Talat Phlu. Saya membeli mi seharga 80 Baht di sana, dan membeli semacam kue pepe yang dinamakan Kanom Chan seharga 36 Baht isi 4 serta beberapa kue lain di toko sebelahnya. Seperti yang M sampaikan ketika memasarkan rumah Amah, memang banyak tempat makan di sekitar sini. Menyeberangi jalan setelah pegadaian ke arah kolong jembatan, kita akan menemukan sebuah pasar. O ya, dalam bahasa Thai, "talat" artinya pasar, walaupun di sini Talat Phlu merujuk ke nama daerah. Nah, di pasarnya "Pasar" Phlu ini, saya membeli semacam martabak tipis yang dinamakan Kanom Buang merk Sarinthip seharga 60 Baht isi 4. Toko ini sudah ada sejak 1905. Tak jauh dari sana, saya juga membeli kue berisi sayur kucai yang dinamakan Kanom Guichai merk Pan Sri seharga 60 Baht juga.
Berikut foto-foto dalam toko mi. Tertempel pada dinding, papan nama berwarna merah-biru-hijau serta kalender bulanan yang masih sama dengan apa yang ada di dalam film. Namun, di dinding seberang sekarang terdapat beberapa foto cuplikan film Lahn Mah ini, yang tentunya tidak ada dalam filmnya. Terlampir juga foto toko martabak tadi.

Dari di dalam toko mengarah ke luar, tampak papan nama toko di dinding — di Mi Sapi Talat Phlu T. Chanphen

Dari di dalam toko mengarah ke dalam, tampak foto cuplikan film di dinding — di Mi Sapi Talat Phlu T. Chanphen
Mengakhiri perjalanan
Setelah berkeliling Talat Phlu, karena ini adalah hari terakhir saya di Thailand, saya naik taksi ke hotel untuk mengambil koper, lalu lanjut ke bandara untuk balik ke Indonesia. Bicara soal taksi, bagi yang ingin ke Wat Chong Lom dari Bangkok tapi tidak ingin pindah-pindah moda transportasi umum seperti yang dibahas sebelumnya, bisa juga langsung naik taksi. Perjalanannya sekitar 1 jam 45 menit dan ongkosnya 1170 Baht belum termasuk tarif tol. Sangat jauh selisihnya jika dibandingkan 8 Baht bus di Bangkok, 10 Baht kereta (kali 2), 3 Baht feri, dan 12 Baht truk di Samut Songkhram, yang totalnya hanya 43 Baht. Berikut foto beberapa tiket kereta dan busnya.
Selesai
Demikianlah perjalanan empat hari saya dalam rangkaian turisme film "How to Make Millions before Grandma Dies" ini. Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan tinggalkan komentar di bawah. Sampai jumpa di kiriman selanjutnya!
Halo, kembali lagi Isamu no Heya! Dengan menemukan halaman ini, saya kira kalian sudah membaca bagian 1 dari perjalanan saya mengunjungi lokasi film "








Kirimkan komentar
Silakan masukan komentar pada kotak teks yang tersedia, lalu klik tombol biru. Periksa kembali secara berkala untuk menemukan balasan terbaru. Anda mungkin tidak menerima notifikasi saat seseorang membalas komentar.