Navigasi

Menampilkan kiriman dengan kategori: Pengalaman. Tampilkan semua kiriman
Menampilkan kiriman dengan kategori: Pengalaman. Tampilkan semua kiriman

25 August 2026


Mengunjungi lokasi film "How to Make Millions before Grandma Dies" di Thailand (Bagian 2: Talat Phlu)

Halo, kembali lagi Isamu no Heya! Dengan menemukan halaman ini, saya kira kalian sudah membaca bagian 1 dari perjalanan saya mengunjungi lokasi film "How to Make Millions before Grandma Dies" di Thailand, bukan? Di kiriman tersebut, saya membahas kuil tempat Amah menuliskan permohonan serta perjalanan menuju dan meninggalkan lokasi tersebut. Namun, kalau pun belum, kalian bisa membacanya di sini.


Poster film Lahn Mah (How to Make Millions before Grandma Dies)

Stasiun tempat Amah berjualan bubur



Cuplikan film, 00:13:29
Mari lanjutkan perjalanannya. Dari pelabuhan, saya berjalan kaki lagi untuk ke Stasiun Maha Chai, yang untungnya tidak terlalu jauh. Di sini, barulah saya bisa naik kereta biru menuju Wongwian Yai. Talat Phlu berada satu stasiun sebelum tujuan akhir rute. Jadi, jangan sampai kelewatan. Setelah naik kereta selama kurang lebih 45 menit, sampailah saya di daerah tempat Amah tinggal.

Walaupun Stasiun Talat Phlu berada di Bangkok, stasiun ini begitu sederhana, sangat berbeda dari Stasiun Krung Thep yang megah dan modern. Untuk penampakannya cukup sama seperti yang tergambar dalam film. Saat keluar dari stasiun, kita akan disambut oleh 7-Eleven di sebelah kiri. Ini hal yang cukup umum di Thailand, ada stasiun, ada 7-Eleven. Nah, setelahnya saya menemukan deretan toko yang muncul di layar judul, termasuk Mi Sapi Talat Phlu tempat M makan. Jadi memang sedekat itu, tapi karena 7-Eleven tidak disorot dalam film jadi terkesan beda daerah.

Berikut foto-foto stasiun Talat Phlu dan pertokoan di sekitarnya. Dari kanan ke kiri, terlihat pegadaian, toko emas, toko kue, toko mi, hingga ke toko obat dengan susunan yang sama dengan di film. Hanya toko obat yang mengubah papan namanya dari yang berwarna merah-emas menjadi putih-hijau.


Suasana area peron — di Stasiun Talat Phlu

Tampak depan stasiun — di Stasiun Talat Phlu

Pertokoan dekat stasiun di ujung kanan, dengan pegadaian dan toko emasnya — di Talat Phlu

Pertokoan dekat stasiun di tengah-tengah, dengan toko kue dan toko minya — di Talat Phlu

Pertokoan dekat stasiun di ujung kiri, dengan toko obat, laundry, dan 7-Eleven yang berada tepat di samping stasiun — di Talat Phlu

Menjelajahi Talat Phlu dan mencicipi makanan khasnya



Cuplikan film, 00:13:26
Di hari pertama mengunjungi Talat Phlu, saya hanya sempat mengambil foto sekitar stasiun. Setelahnya, saya menjelajahi pusat kota Bangkok dan juga melihat festival Songkran, perayaan tahun baru Thailand yang dimeriahkan dengan perang air. Lebih lanjut mengenai hal ini, termasuk perjalanan delapan hari saya berkeliling Thailand, mulai dari wilayah Lanna di utara (termasuk Chiang Mai) hingga ke wilayah Dvaravati di pusat (termasuk Samut Songkhram di selatan Bangkok yang sudah saya bahas sebelumnya), mungkin akan saya bagikan pada kiriman terpisah.

Melanjutkan perjalanan Lahn Mah, saya kembali lagi ke Talat Phlu dua hari setelahnya untuk mengeksplorasi lebih jauh. Toko yang pertama saya kunjungi adalah Mi Sapi Talat Phlu. Saya membeli mi seharga 80 Baht di sana, dan membeli semacam kue pepe yang dinamakan Kanom Chan seharga 36 Baht isi 4 serta beberapa kue lain di toko sebelahnya. Seperti yang M sampaikan ketika memasarkan rumah Amah, memang banyak tempat makan di sekitar sini. Menyeberangi jalan setelah pegadaian ke arah kolong jembatan, kita akan menemukan sebuah pasar. O ya, dalam bahasa Thai, "talat" artinya pasar, walaupun di sini Talat Phlu merujuk ke nama daerah. Nah, di pasarnya "Pasar" Phlu ini, saya membeli semacam martabak tipis yang dinamakan Kanom Buang merk Sarinthip seharga 60 Baht isi 4. Toko ini sudah ada sejak 1905. Tak jauh dari sana, saya juga membeli kue berisi sayur kucai yang dinamakan Kanom Guichai merk Pan Sri seharga 60 Baht juga.

Berikut foto-foto dalam toko mi. Tertempel pada dinding, papan nama berwarna merah-biru-hijau serta kalender bulanan yang masih sama dengan apa yang ada di dalam film. Namun, di dinding seberang sekarang terdapat beberapa foto cuplikan film Lahn Mah ini, yang tentunya tidak ada dalam filmnya. Terlampir juga foto toko martabak tadi.


Dari di dalam toko mengarah ke luar, tampak papan nama toko di dinding — di Mi Sapi Talat Phlu T. Chanphen

Dari di dalam toko mengarah ke dalam, tampak foto cuplikan film di dinding — di Mi Sapi Talat Phlu T. Chanphen

Pasarnya Talat Phlu — di Pasar Makanan Talat Phlu

Tampak depan salah satu toko Kanom Buang di dalam pasar — di Kanom Buang Sarinthip

Beberapa karyawan sedang mempersiapkan Kanom Buang — di Kanom Buang Sarinthip

Mengakhiri perjalanan


Setelah berkeliling Talat Phlu, karena ini adalah hari terakhir saya di Thailand, saya naik taksi ke hotel untuk mengambil koper, lalu lanjut ke bandara untuk balik ke Indonesia. Bicara soal taksi, bagi yang ingin ke Wat Chong Lom dari Bangkok tapi tidak ingin pindah-pindah moda transportasi umum seperti yang dibahas sebelumnya, bisa juga langsung naik taksi. Perjalanannya sekitar 1 jam 45 menit dan ongkosnya 1170 Baht belum termasuk tarif tol. Sangat jauh selisihnya jika dibandingkan 8 Baht bus di Bangkok, 10 Baht kereta (kali 2), 3 Baht feri, dan 12 Baht truk di Samut Songkhram, yang totalnya hanya 43 Baht. Berikut foto beberapa tiket kereta dan busnya.


Tiket kereta 10 Baht dan tiket bus 8 Baht. Untuk feri dan truk tidak ada tiketnya.

Selesai


Demikianlah perjalanan empat hari saya dalam rangkaian turisme film "How to Make Millions before Grandma Dies" ini. Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan tinggalkan komentar di bawah. Sampai jumpa di kiriman selanjutnya!

21 August 2026


Mengunjungi lokasi film "How to Make Millions before Grandma Dies" di Thailand (Bagian 1: Wat Chong Lom)

Halo, para pembaca Isamu no Heya! Ternyata sudah lima tahun berlalu ya sejak terakhir saya menulis di sini. Jadi, bagaimana kabar kalian? Baik, pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi cerita mengenai perjalanan wisata saya.

April lalu, saya mengunjungi Thailand untuk pertama kalinya. Saat berwisata ke luar negeri, saya biasa menyempatkan diri untuk mengunjungi berbagai lokasi yang menjadi latar anime, atau istilahnya "ziarah anime". Beberapa di antaranya adalah Australia dengan "Free", Singapura dengan "Plastic Memories", Jepang dengan "Haruhi", "Anohana", dan "Kimi no nawa". Bedanya, kali ini saya sedikit bergeser ke film, atau istilahnya "turisme film".

Layaknya anime, yang meski dari Jepang tapi berlatar luar negeri, tentu juga ada film luar yang berlatar Thailand seperti "The Beach" dan "James Bond". Namun, fokus saya kali ini adalah film asli Thailand. Ya, inilah "Lahn Mah", atau yang lebih dikenal dengan judul bahasa Inggrisnya "How to Make Millions before Grandma Dies". Daerah yang dikunjungi mulai dari Ban Prok di Distrik Mueang Samut Songkhram hingga ke Talat Phlu di Distrik Thon Buri.


Poster film Lahn Mah (How to Make Millions before Grandma Dies)

Kuil tempat Amah menuliskan permohonan



Cuplikan film, 00:58:14
Mari mulai perjalanannya dari tempat yang dikunjungi Amah bersama M dan keluarga Kiang di pertengahan film. Di sini, mereka berdoa dan menempelkan kertas permohonan. Nah, ini adalah kuil Wat Chong Lom di Ban Prok, Mueang Samut Songkhram. Saat saya tiba, pagarnya ditutup sehingga tidak bisa masuk ke dalam. Di pemberhentian pertama ini, saya memang datang di sore hari, karena ingin mencoba bubur bebek legendaris 25 Baht yang dijual dari atas perahu di belakang kuil.

Menemukan lokasi pasti kuil ini cukup menantang, karena berbeda dari Talat Phlu yang populer sebagai tempat rumah Amah, tempat ini jarang dibahas di Internet. AI Gemini pun memberi jawaban yang salah ketika saya menanyakannya. Adanya Google Image Search cukup membantu. Bermodalkan foto cuplikan film dan hasil memeriksa berbagai foto yang mirip dalam hasil pencarian, satu nama mulai mengerucut. Sayangnya, ada banyak kuil bernama Chong Lom di Thailand, tapi akhirnya saya berhasil menemukan yang tepat berkat Google Street View.

Berikut foto-foto kuil dan bubur yang saya sebut tadi. Selain itu, di depan kuil sebenarnya ada juga pasar yang menjual mulai dari makanan, baik yang siap saji, mentah, bahkan untuk keperluan ibadah; sampai ke perlengkapan lainnya.


Tampak depan patung Kwan Im dan kedua muridnya — di Wat Chong Lom

Tampak samping patung Kwan Im dan kedua muridnya — di Wat Chong Lom

Saya di depan tangga menuju patung Kwan Im dan kedua muridnya — di Wat Chong Lom

Penjual bubur bebek di atas perahu seharga 25 Baht — di Khaotom Ruea Ta Chek

Naik kereta api menuju dan meninggalkan kuil Wat Chong Lom



Cuplikan film, 00:57:51
Sekarang, mari mengingat kembali bagaimana mereka datang dan pergi. Saat berangkat, keluarga Kiang terlihat ikut naik kereta warna merah, sehingga tampaknya kereta berangkat dari stasiun dekat rumah mereka. Saat pulang, hanya M yang menemani Amah naik kereta warna biru, sehingga tampaknya kereta tiba ke stasiun dekat rumah Amah di mana mereka lalu singgah membeli sepatu. Kesimpulannya, ada dua kereta berbeda di sini.

Tempat tinggal Amah sudah tahu, lokasi kuil juga sudah tahu, salah satu stasiunnya bahkan disebutkan di awal film. Oleh karena itu, tak begitu sulit menemukan rute yang mereka lalui ini. Langsung saja, ini adalah kereta Mae Klong ke Ban Laem (merah), dan Maha Chai ke Wongwian Yai (biru). Rute pertama dengan tiket 10 Baht ditempuh dalam 1 jam. Rute kedua dengan harga tiket yang sama ditempuh dalam 50 menit. Saya menaiki dua kereta ini di hari berikutnya setelah bermalam di penginapan warga dekat Pasar Apung Amphawa.

Berikut foto-foto dalam kereta dan di stasiun yang saya sebut tadi. Di dalam kereta, terlihat pintu keluar, tombol darurat, hingga kursi yang saling berhadapan dengan jendela di atasnya, yang sama dengan yang ada di film. Yang berbeda hanya warnanya, di sana cokelat, di sini biru.


Kereta berwarna merah — di Stasiun Ban Laem

Kereta berwarna biru — di Stasiun Maha Chai

Suasana di dalam kereta berwarna merah yang kursinya juga merah — di Stasiun Ban Laem

Suasana di dalam kereta berwarna biru yang kursinya juga biru, sama seperti di film — di Stasiun Maha Chai

Mengarungi tantangan moda transportasi: kereta, kapal, bus, hingga truk



Cuplikan film, 00:57:08
Jadi, apa memang semudah itu perjalanan dari Wat Chong Lom ke Talat Phlu? Di film memang hanya kereta yang ditampilkan, tapi sebenarnya ini perjalanan lintas moda. Perjalanan di luar kereta ini yang cukup menantang, apalagi Google Maps tidak bisa mengeluarkan panduan transportasi umum di daerah Mueang Samut Songkhram ini. Namun berkat penduduk lokal, termasuk penjaga penginapan yang bahkan mengantar saya ke tempat naik truk yang tidak ada penandanya sama sekali, saya bisa melanjutkan turisme film ini.

Oke, seperti ini perjalanannya. Dari kuil, kita harus naik jembatan penyeberangan tak jauh dari pasar. Namun berhubung saya memulai perjalanan hari ini dari penginapan, saya sudah berada di sisi lainnya. Dari seberang kuil ini, saya naik semacam truk pikap (disebut songthaew) berwarna biru menuju Stasiun Mae Klong. Dengan ongkos 12 Baht, transportasi umum ini menempuh jarak sekitar 4 kilometer. Di sini, barulah saya bisa naik kereta merah menuju Ban Laem.

Setelah tiba di Stasiun Ban Laem, perjalanan semakin menarik. Soalnya, Ban Laem dan Maha Chai ternyata dipisahkan oleh Sungai Tha Chin! Tak bisa langsung transit kereta begitu saja, tapi perlu berjalan kaki dahulu sekitar 600 meter ke Pelabuhan Tha Chalom, tempat kapal feri tujuan Maha Chai berada. Dengan meluangkan waktu 15 menit dan 3 Baht untuk tiket penumpang tanpa kendaraan pribadi - ya, semurah itu! - kita akan sampai di Pelabuhan Maha Chai di seberang.

Berikut foto-foto kapal dan pelabuhan yang saya sebut tadi. O ya, karena sudah lewat tengah hari, saya makan siang dahulu di restoran tepat depan pelabuhan yang menyajikan hidangan laut segar, termasuk tiram asli. Terlampir juga fotonya.


Kapal feri yang digunakan untuk menyeberangi Sungai Tha Chin menuju Maha Chai — di Dermaga Tha Chalom

Tampak dermaga pelabuhan dari kejauhan — di Pelabuhan Maha Chai

Tampak dermaga pelabuhan dari lebih dekat, dengan eceng gondoknya yang membuat kapal tak bisa melaju kencang — di Pelabuhan Maha Chai

Tampak pintu masuk pelabuhan dari depan, beserta titik 0 km-nya — di Pelabuhan Maha Chai

Otak-otak ikan dan telur dadar tiram (Ya, dengan daging tiram utuh, bukan saus tiram) — di Restoran Tha Reua 2507

Bersambung...


Perjalanan saya dalam rangkaian turisme film "How to Make Millions before Grandma Dies" ini belum selesai. Pada kesempatan berikutnya, saya akan memceritakan tempat sering dibahas dari film ini. Apa lagi kalau bukan Talat Phlu, daerah tempat Amah tinggal dan berjualan bubur. Jadi, nantikan kiriman Isamu no Heya selanjutnya ya. Namun jika ada yang ingin ditanyakan, bisa tinggalkan komentar di bawah.

01 October 2020


Daftar saluran televisi digital (DTV channel) DVB-T2 serta pengalaman mencoba siarannya

Halo, apa kabar semuanya? Setelah beberapa kiriman sebelumnya adalah Komik TOC, pada kiriman kali ini saya membawakan kategori Pengalaman, tepatnya tentang saat saya mencoba siaran televisi digital. Lihat pula pengalaman saya menggunakan ponsel root di sini.

Siaran televisi digital di Indonesia




Logo DVB-T2
Ada beberapa standar dalam penyiaran televisi digital, seperti DVB, ATSC, ISDB, DTMB, dan DMB. Indonesia sendiri awalnya menggunakan standar DVB-T pada saat uji coba pada tahun 2008. Namun, pada tahun 2013 diputuskan standar DVB-T2 lah yang akan digunakan. Sejak inilah sudah cukup banyak dekoder/konverter berupa set top box yang bisa dipasang pada televisi analog biasa agar dapat menerima siaran digital.

Meski siaran ini sudah dimulai cukup lama, namun memang baru semakin ramai di beberapa tahun terakhir ini. Bisa jadi karena adanya rencana siaran televisi analog akan segera dimatikan (analog switch off-ASO). Karena alasan itulah juga, saya jadi penasaran untuk mencobanya.

Jadwal tahapan analog switch off (ASO)


Tanggal pasti penonaktifan siaran analog ini memang cukup simpang siur. Rencana awalnya adalah tepat pada Hari Penyiaran Nasional 1 April 2022 nanti. Namun, belakangan tersebar kabar bahwa proses ini akan dipecah menjadi empat, dan bahkan lima, tahap.

Tahap I sendiri sempat diundur dari 30 Juni dengan target 12 ibu kota provinsi terpilih (Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Banten, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara) dan Jabodetabek, ke 17 Agustus 2021 dengan target kota terpilih dari 6 provinsi tanpa Jabodetabek. Berikut tahapan ASO tersebut.

Tahap Tanggal Cakupan wilayah
1 17 Agustus 2021
  • Kab. Aceh Besar, Aceh
  • Kota Banda Aceh, Aceh
  • Kab. Bintan, Kepri
  • Kab. Karimun, Kepri
  • Kota Batam, Kepri
  • Kota Tanjung Pinang, Kepri
  • Kab. Serang, Banten
  • Kota Cilegon, Banten
  • Kota Serang, Banten
  • Kab. Kutai Kertanegara, Kaltim
  • Kota Samarinda, Kaltim
  • Kota Bontang, Kaltim
  • Kab. Bulungan, Kalut
  • Kota Tarakan, Kalut
  • Kota Nunukan, Kalut
2 1 Januari 2022
  • Kota Sabang, Aceh
  • Kab. Pidie, Aceh
  • Kab. Bireuen, Aceh
  • Kab. Pidie Jaya, Aceh
  • Kab. Bengkalis, Riau
  • Kab. Kep. Meranti, Riau
  • Kota Dumai, Riau
  • Kab. Garut, Jabar
  • Kab. Cirebon, Jabar
  • Kab. Kuningan, Jabar
  • Kota Cirebon, Jabar
  • Kab. Ciamis, Jabar
  • Kab. Pangandaran, Jabar
  • Kab. Tasikmalaya, Jabar
  • Kota Banjar, Jabar
  • Kota Tasikmalaya, Jabar
  • Kab. Cianjur, Jabar
  • Kab. Majalengka, Jabar
  • Kab. Sumedang, Jabar
  • Kab. Blora, Jateng
  • Kab. Pekalongan, Jateng
  • Kab. Pemalang, Jateng
  • Kab. Tegal, Jateng
  • Kota Pekalongan, Jateng
  • Kota Tegal, Jateng
  • Kab. Rembang, Jateng
  • Kab. Pati, Jateng
  • Kab. Jepara, Jateng
  • Kab. Cilacap, Jateng
  • Kab. Banyumas, Jateng
  • Kab. Purbalingga, Jateng
  • Kab. Brebes, Jateng
  • Kab. Sampang, Jatim
  • Kab. Pamekasan, Jatim
  • Kab. Sumenep, Jatim
  • Kab. Situbondo, Jatim
  • Kab. Banyuwangi, Jatim
  • Kab. Pacitan, Jatim
  • Kab. Pandeglang, Banten
  • Kab. Timor Tengah Utara, NTT
  • Kab. Belu, NTT
  • Kab. Malaka, NTT
  • Kab. Penajam Paser Utara, Kaltim
  • Kota Balikpapan, Kaltim
3 1 April 2022
  • Kab. Aceh Utara, Aceh
  • Kota Lhokseumawe, Aceh
  • Kab. Karo, Sumut
  • Kab. Simalungun, Sumut
  • Kab. Asahan, Sumut
  • Kab. Batu Bara, Sumut
  • Kota Pematangsiantar, Sumut
  • Kota Tanjung Balai, Sumut
  • Kab. Dairi, Sumut
  • Kab. Pakpak Bharat, Sumut
  • Kab. Solok, Sumbar
  • Kab. Sijunjung, Sumbar
  • Kab. Tanah Datar, Sumbar
  • Kab. Padang Pariaman, Sumbar
  • Kab. Agam, Sumbar
  • Kota Padang, Sumbar
  • Kota Solok, Sumbar
  • Kota Sawahlunto, Sumbar
  • Kota Padang Panjang, Sumbar
  • Kota Bukittinggi, Sumbar
  • Kota Pariaman, Sumbar
  • Kab. Batanghari, Jambi
  • Kab. Muaro Jambi, Jambi
  • Kota Jambi, Jambi
  • Kab. Sarolangun, Jambi
  • Kab. Ogan Komering Ilir, Sumsel
  • Kab. Banyuasin, Sumsel
  • Kab. Ogan Ilir, Sumsel
  • Kota Palembang, Sumsel
  • Kab. Jembrana, Bali
  • Kab. Tabanan, Bali
  • Kab. Badung, Bali
  • Kab. Gianyar, Bali
  • Kab. Klungkung, Bali
  • Kab. Bangli, Bali
  • Kab. Karangasem, Bali
  • Kab. Buleleng, Bali
  • Kota Denpasar, Bali
  • Kab. Bengkulu Tengah, Bengkulu
  • Kota Bengkulu, Bengkulu
  • Kab. Lampung Selatan, Lampung
  • Kab. Lampung Tengah, Lampung
  • Kab. Lampung Timur, Lampung
  • Kab. Pesawaran, Lampung
  • Kab. Pringsewu, Lampung
  • Kota Bandar Lampung, Lampung
  • Kota Metro, Lampung
  • Kab. Bangka Tengah, Kep. Babel
  • Kota Pangkal Pinang, Kep. Babel
  • Kab. Lumajang, Jatim
  • Kab. Jember, Jatim
  • Kab. Bondowoso, Jatim
  • Kab. Lombok Barat, NTB
  • Kab. Lombok Tengah, NTB
  • Kab. Lombok Timur, NTB
  • Kota Mataram, NTB
  • Kab. Kupang, NTT
  • Kota Kupang, NTT
  • Kab. Mempawah, Kalbar
  • Kab. Kubu Raya, Kalbar
  • Kota Pontianak, Kalbar
  • Kab. Tapin, Kalsel
  • Kab. Hulu Sungai Selatan, Kalsel
  • Kab. Hulu Sungai Tengah, Kalsel
  • Kab. Hulu Sungai Utara, Kalsel
  • Kab. Balangan, Kalsel
  • Kab. Kotabaru, Kalsel
  • Kab. Tabalong, Kalsel
  • Kab. Pulang Pisau, Kalteng
  • Kota Palangkaraya, Kalteng
  • Kab. Minahasa, Sulut
  • Kab. Minahasa Utara, Sulut
  • Kota Manado, Sulut
  • Kota Bitung, Sulut
  • Kota Tomohon, Sulut
  • Kab. Sigi, Sulteng
  • Kota Palu, Sulteng
  • Kab. Takalar, Sulsel
  • Kab. Gowa, Sulsel
  • Kab. Maros, Sulsel
  • Kab. Pangkajene Kepulauan, Sulsel
  • Kota Makassar, Sulsel
  • Kab. Konawe, Sultra
  • Kab. Konawe Selatan, Sultra
  • Kab. Konawe Utara, Sultra
  • Kab. Konawe Kepulauan, Sultra
  • Kota Kendari, Sultra
  • Kab. Gorontalo, Gorontalo
  • Kab. Bone Bolango, Gorontalo
  • Kab. Gorontalo Utara, Gorontalo
  • Kota Gorontalo, Gorontalo
  • Kab. Boalemo, Gorontalo
  • Kab. Mamuju, Sulbar
  • Kab. Seram Bagian Barat, Maluku
  • Kota Ambon, Maluku
  • Kab. Halmahera Barat, Maluku Ut.
  • Kota Ternate, Maluku Ut.
  • Kab. Jayapura, Papua
  • Kab. Keerom, Papua
  • Kota Jayapura, Papua
  • Kab. Sorong, Papua Bar.
  • Kota Sorong, Papua Bar.
  • Kab. Manokwari, Papua Bar.
  • Kab. Manokwari Selatan, Papua Bar.
  • Kab. Pegunungan Arfak, Papua Bar.
4 17 Agustus 2022
  • Kab. Langkat, Sumut
  • Kab. Deli Serdang, Sumut
  • Kab. Serdang Bedagai, Sumut
  • Kota Medan, Sumut
  • Kota Binjai, Sumut
  • Kota Tebing Tinggi, Sumut
  • Kab. Lima Puluh Kota, Sumbar
  • Kota Payakumbuh, Sumbar
  • Kab. Pesisir Selatan, Sumbar
  • Kab. Pelalawan, Riau
  • Kab. Siak, Riau
  • Kab. Kuantan Singingi, Riau
  • Kab. Tanjung Jabung Barat, Jambi
  • Kab. Tanjung Jabung Timur, Jambi
  • Kab. Bungo, Jambi
  • Kab. Tebo, Jambi
  • Kab. Merangin, Jambi
  • Kab. Musi Banyuasin, Sumsel
  • Kab. Musi Rawas, Sumsel
  • Kab. Musi Empat Lawang, Sumsel
  • Kab. Musi Rawas Utara, Sumsel
  • Kota Lubuk Linggau, Sumsel
  • Kab. Muara Enim, Sumsel
  • Kab. Penukal Abab Lematang Ilir, Sumsel
  • Kota Prabumulih, Sumsel
  • Kab. Lahat, Sumsel
  • Kota Pagar Alam, Sumsel
  • Kab. Ogan Komering Ulu, Sumsel
  • Kab. Ogan Komering Ulu Timur, Sumsel
  • Kab. Lampung Utara, Lampung
  • Kab. Way Kanan, Lampung
  • Kab. Tulang Bawang Barat, Lampung
  • Kab. Bangka, Kep. Babel
  • Kab. Bangka Barat, Kep. Babel
  • Kab. Kep. Seribu, Jakarta
  • Kota Jakarta Pusat, Jakarta
  • Kota Jakarta Utara, Jakarta
  • Kota Jakarta Barat, Jakarta
  • Kota Jakarta Selatan, Jakarta
  • Kota Jakarta Timur, Jakarta
  • Kab. Bekasi, Jabar
  • Kab. Bogor, Jabar
  • Kota Bekasi, Jabar
  • Kota Bogor, Jabar
  • Kab. Tangerang, Banten
  • Kota Tangerang, Banten
  • Kota Tangerang Selatan, Banten
  • Kab. Bandung, Jabar
  • Kab. Bandung Barat, Jabar
  • Kota Bandung, Jabar
  • Kota Cimahi, Jabar
  • Kab. Boyolali, Jateng
  • Kab. Sragen, Jateng
  • Kab. Grobogan, Jateng
  • Kab. Kudus, Jateng
  • Kab. Demak, Jateng
  • Kab. Semarang, Jateng
  • Kota Salatiga, Jateng
  • Kota Semarang, Jateng
  • Kab. Kulon Progo, Yogya
  • Kab. Bantul, Yogya
  • Kab. Gunungkidul, Yogya
  • Kab. Sleman, Yogya
  • Kota Yogyakarta, Yogya
  • Kab. Klaten, Yogya
  • Kab. Sukoharjo, Yogya
  • Kab. Karanganyar, Yogya
  • Kota Surakarta, Yogya
  • Kab. Pasuruan, Jatim
  • Kab. Sidoarjo, Jatim
  • Kab. Mojokerto, Jatim
  • Kab. Jombang, Jatim
  • Kab. Lamongan, Jatim
  • Kab. Gresik, Jatim
  • Kab. Bangkalan, Jatim
  • Kota Pasuruan, Jatim
  • Kota Mojokerto, Jatim
  • Kota Surabaya, Jatim
  • Kab. Timor Tengah Selatan, NTT
  • Kab. Bengkayang, Kalbar
  • Kota Singkawang, Kalbar
  • Kab. Tanah Laut, Kalsel
  • Kab. Banjar, Kalsel
  • Kab. Barito Kuala, Kalsel
  • Kota Banjarmasin, Kalsel
  • Kota Banjarbaru, Kalsel
  • Kab. Kotawaringin Timur, Kalteng
  • Kab. Katingan, Kalteng
  • Kab. Bolaang Mongondow, Sulut
  • Kab. Minahasa Selatan, Sulut
  • Kab. Minahasa Tenggara, Sulut
  • Kab. Bolaang Mongondow Timur, Sulut
  • Kota Kotamobagu, Sulut
  • Kab. Donggala, Sulteng
  • Kab. Poso, Sulteng
  • Kab. Tojo Una Una, Sulteng
  • Kab. Luwu, Sulsel
  • Kab. Luwu Utara, Sulsel
  • Kota Palopo, Sulsel
  • Kab. Bone, Sulsel
  • Kab. Soppeng, Sulsel
  • Kab. Wajo, Sulsel
  • Kab. Sinjai, Sulsel
  • Kab. Muna, Sultra
  • Kab. Muna Barat, Sultra
  • Kab. Buton Tengah, Sultra
  • Kota Bau Bau, Sultra
  • Kab. Halmahera Selatan, Maluku Ut.
  • Kota Tidore Kepulauan, Maluku Ut.
5 22 November 2022
  • Kab. Rokan Hilir, Riau
  • Kab. Indragiri Hilir, Riau
  • Kab. Kerinci, Jambi
  • Kota Sungai Penuh, Jambi
  • Kab. Belitung, Kep. Babel
  • Kab. Belitung Timur, Kep. Babel
  • Kab. Sukabumi, Jabar
  • Kota Sukabumi, Jabar
  • Kab. Indramayu, Jabar
  • Kab. Karawang, Jabar
  • Kab. Purwakarta, Jabar
  • Kab. Subang, Jabar
  • Kab. Magelang, Jateng
  • Kab. Temanggung, Jateng
  • Kab. Kendal, Jateng
  • Kab. Batang, Jateng
  • Kota Magelang, Jateng
  • Kab. Banjarnegara, Jateng
  • Kab. Kebumen, Jateng
  • Kab. Purworejo, Jateng
  • Kab. Wonosobo, Jateng
  • Kab. Malang, Jatim
  • Kab. Probolinggo, Jatim
  • Kota Malang, Jatim
  • Kota Probolinggo, Jatim
  • Kota Batu, Jatim
  • Kab. Tulungagung, Jatim
  • Kab. Blitar, Jatim
  • Kab. Kediri, Jatim
  • Kab. Nganjuk, Jatim
  • Kota Kediri, Jatim
  • Kota Blitar, Jatim
  • Kab. Bojonegoro, Jatim
  • Kab. Tuban, Jatim
  • Kab. Ponorogo, Jatim
  • Kab. Trenggalek, Jatim
  • Kab. Madiun, Jatim
  • Kab. Magetan, Jatim
  • Kab. Ngawi, Jatim
  • Kota Madiun, Jatim
  • Kab. Lebak, Banten
  • Kab. Dompu, NTB
  • Kab. Bima, NTB
  • Kota Bima, NTB
  • Kab. Sintang, Kalbar
  • Kab. Kepulauan Sangihe, Sulut
  • Kab. Toli Toli, Sulteng
  • Kab. Sidenreng Rappang, Sulsel
  • Kab. Pinrang, Sulsel
  • Kab. Enrekang, Sulsel
  • Kota Pare Pare, Sulsel
  • Kab. Maluku Tenggara, Maluku
  • Kota Tual, Maluku
  • Kab. Merauke, Papua
  • Kab. Jayawijaya, Papua
  • Kab. Yahukimo, Papua
  • Kab. Mamberamo Raya, Papua
  • Kab. Mamberamo Tengah, Papua
  • Kab. Yalimo, Papua
  • Kab. Mimika, Papua
  • Kab. Nabire, Papua
  • Kab. Biak Numfor, Papua
  • Kab. Supiori, Papua

Mencoba keunggulan siaran televisi terestrial digital



Set top box Akari ADS-210
Karena televisi saya belum siap digital, maka saya menggunakan set top box. Set top box yang saya beli adalah Akari ADS-210 dengan harga Rp230.000 pada waktu itu. Untuk menggunakannya, cukup colok antena UHF biasa.

Berikut beberapa poin yang ingin saya sampaikan setelah mencobanya:
  • Televisi digital dapat beroperasi tanpa Internet sama sekali, tidak seperti Smart TV dan Android TV yang umumnya perlu koneksi.
  • Tidak ada iuran bulanan maupun biaya abodemen, tidak seperti TV Kabel. Siaran benar-benar gratis (free to air)
  • Saat sinyal lemah, tidak ada semut ataupun bayangan pada gambar, yang ada hanyalah penurunan frame rate sehingga gambar menjadi patah-patah.
  • Saat sinyal lemah, tidak ada derau ataupun perubahan volume yang mengagetkan dari stereo ke mono pada suara, yang ada hanyalah suara menjadi hilang atau menjadi patah-patah.
  • Walaupun sinyal lemah, tayangan masih oke meski sinyal turun ke 50%. Baru jika turun ke sekitar 25% lah tayangan menjadi sulit disaksikan.
  • Beberapa saluran menawarkan siaran dalam beberapa resolusi (misal SD dan HD). Saat sinyal lemah, kita dapat menurunkan kualitasnya agar tidak patah-patah.
  • Jumlah saluran televisi digital lebih banyak (lebih dari 40) dibandingkan siaran analog (hanya 20).
  • Ada beberapa saluran yang belum tersedia di digital. Bila kalian menggunakan set top box yang hanya bisa menerima siaran digital, kalian harus melepas antena dari set top box dan memasangnya kembali ke perangkat televisi saat ingin menyaksikan siaran analog.
  • Siaran disajikan dalam aspek rasio 16:9, sehingga tidak perlu ditarik dan menjadi gepeng jika diputar pada televisi layar lebar. Pada beberapa saluran yang menerapkan safe area, kita jadi bisa melihat apa yang sebelumnya tidak terlihat pada siaran analog biasa.


    Ilustrasi 16:9 safe area

  • Tersedia nama saluran sehingga tidak perlu lagi bingung atau menebak-nebak nama salurannya ketika logo stasiun televisi tersebut tidak dimunculkan misalkan saat siaran bersama atau iklan.
  • Tersedia waktu sesuai yang digunakan oleh penyedia saluran serta jadwal acaranya (electronic program guide, baru tersedia di kanal 40 (Trans Group)) sehingga tidak perlu lagi mengecek di koran ataupun situs web televisi tersebut untuk mengetahui program selanjutnya.
  • Penomoran dan urutan ditentukan oleh pemilik saluran. Contohnya Magna Channel berada pada nomor 003, maka ini akan berlaku juga di semua televisi. Kita tidak perlu lagi mengingat-ingat ada di nomor berapa Magna Channel di televisi ruang tamu yang mungkin berbeda urutannya dengan televisi kamar tidur. Penomoran ini disebut dengan LCN (logical channel number)

Daftar channel TV yang tersedia secara digital


Berikut daftar saluran televisi yang berhasil saya temukan saat mencoba siaran digital di daerah Ciputat, Tangerang Selatan per Januari 2021. Total ada 40-an. Untuk kanal 24 (Indosiar dan SCTV), 40 (Trans Group), dan 48 (RTV) sendiri agak sulit ditangkap dan hanya dapat ditonton bila antena diarahkan ke posisi tertentu.

Berdasarkan LCN

Tidak banyak memang yang membagikan daftar saluran TV digital berdasarkan LCN (logical channel number). Ini nampaknya karena di Indonesia LCN ini sendiri belum diatur. Informasi selengkapnya bisa dibaca di sini.

Saluran yang belum mengirimkan LCN, maupun saluran bersinyal rendah dari beberapa saluran yang memiliki LCN sama (seperti Metro TV (HD) dan SCTV), nampaknya dialokasikan pada LCN 800-an (8XX). Jika nantinya semua saluran sudah dialokasikan LCN-nya, kalian cukup mengingat nomor LCN yang dimiliki suatu saluran, dan kalian pasti akan menemukan saluran tersebut berada di urutan yang sama pada perangkat televisi digital atau set top box apa pun yang mendukung LCN.

Klik pada judul kolom untuk mengurutkan
LCN Nama saluran Kanal mux Frekuensi (MHz)
001 Metro TV (HD) 32 562
001 SCTV 24 498
002 IVM / Indosiar 24 498
003 Mentari TV 24 498
003 Magna Channel 32 562
004 O Channel 24 498
006 UGTV / TV Univ. Gunadarma 32 562
800 BBS TV Jakarta 32 562
801 BN TV 32 562
802 Metro TV (SD) 32 562
803 My TV 32 562
804 Jawapostv 32 562
805 antv 34 578
806 JAK TV 34 578
807 SportOne 34 578
808 tvOne 34 578
809 Berita Satu 36 594
810 Berita Satu World 36 594
811 CNBC Indonesia 40 626
812 CNN Indonesia 40 626
813 Trans7 40 626
814 Trans TV 40 626
815 Badar TV 42 642
816 DAAI TV 42 642
817 Gramedia TV 42 642
818 Inspira TV 42 642
819 Kompas TV 42 642
820 MITV / Mata Indonesia Televisi 42 642
821 NET. 42 642
822 NTV / Nusantara TV 42 642
823 Opus TV 42 642
824 tvMu / TV Muhammadiyah 42 642
825 TVRI 3 42 642
826 TVRI Jakarta 42 642
827 TVRI Nasional 42 642
828 TVRI Sport 42 642
829 TVT / TV Tempo 42 642
830 RCTI 44 658
831 MNCTV 44 658
832 GTV 44 658
833 iNews 44 658
834 RTV-1 48 690
835 RTV-2 48 690

Berdasarkan frekuensi

Berikut ini adalah daftar saluran TV digital berdasarkan frekuensi mux-nya. Kalian cukup mengingat frekuensi yang dimiliki suatu saluran dan menggunakannya saat melakukan pencarian saluran baru (atau pemutakhiran jika perangkat tersebut belum pernah mengenal saluran ini). Dalam siaran digital, satu frekuensi digunakan bersama-sama antar saluran (channel) televisi, tidak seperti siaran analog yang satu saluran per frekuensi.

Hal ini dikenal dengan istilah multiplexing. Nantinya perangkat kita yang akan memilih video yang mana yang akan ditampilkan. Teknik ini juga bisa kalian temui pada berkas mkv yang dapat memiliki beberapa audio dan takarir dalam satu berkas. Untuk mempelajari selengkapnya tentang multiplexing dan multimedia container, baca juga kiriman tentang cara mengambil berkas aset Tales of Crestoria.

Kanal mux Frekuensi (MHz) Daftar saluran
24 498 IVM/Indosiar,  Mentari TV,  O Channel,  SCTV
32 562 BBS TV Jakarta,  BN TV,  Jawapostv,  Magna Channel,  Metro TV (HD),  Metro TV (SD),  My TV,  UGTV/TV Univ. Gunadarma
34 578 antv,  JAK TV,  SportOne,  tvOne
36 594 Berita Satu,  Berita Satu World
40 626 CNBC Indonesia,  CNN Indonesia,  Trans TV,  Trans7
42 642 Badar TV,  DAAI TV,  Gramedia TV,  Inspira TV,  Kompas TV,  MITV/Mata Indonesia Televisi,  NET.,  NTV/Nusantara TV,  Opus TV,  tvMu/TV Muhammadiyah,  TVRI 3,  TVRI Jakarta,  TVRI Nasional,  TVRI Sport,  TVT/TV Tempo
44 658 GTV,  iNews,  MNCTV,  RCTI
48 690 RTV-1,  RTV-2

Penutup


Nah, cukup banyak bukan saluran televisi yang sudah tersedia dalam siaran digital? Apakah kalian jadi tertarik untuk mencobanya? Atau malah sudah mencobanya duluan? Jika iya, ada berapa saluran yang berhasil kalian dapatkan? Yuk, bagikan pengalaman kalian di kolom komentar.

Demikianlah kiriman kali ini. Sampai jumpa di kiriman Isamu no Heya selanjutnya!

01 July 2020


My rooted Android phone and how it came

This is the official English translation of a post. The original post in bahasa Indonesia can be found here: Pengalaman menggunakan ponsel root, beserta alasannya.
Note: You can always translate any article using Google Translate tool on the upper right corner (or lower part for mobile view) of this blog.

Hello, welcome back to Isamu no Heya. This is another Experience post. Usually I would share my travel journey in this type of category. But this time, I will share my experience while using rooted phones instead.

Why should you root your phone?



Android
Since the first time I got my Android phone, I always use phones that have been rooted. And, it continues until now. You might be wondering why. I also got this kind of questions several times, in person. Mostly from coworkers, since both of us are currently working in a financial services company which releases apps that usually also cannot be used on rooted phones. A little contradictory indeed.

In the end, I still keep my phones rooted. It seems that the phones cannot be used optimally, otherwise. So, that's the reason why. Moreover, throughout all this time I spent with my rooted phones, I have found that rooting has more advantages than its disadvantages.

Well, I won't teach you how to root your phone in this post, because there are already so many tutorials out there, and even the ones with specific steps for each device model. However, I will share the benefits that I have got so far.

What will you get by rooting certain phones?


Let's begin with the specific reasons first. I will tell you why I rooted each and every phone that I have. Since the benefits I mentioned here are specific to certain models only, I hoped that you can do further research to find out whether they can be applied to your devices or not.

  • Removing the boot animation
    I used this technique to my first Android phone, a phone which was marketed by one of the CDMA operators at that time. This phone will display an animation of that operator logo long enough every time you turn on the phone. Of course, also accompanied with maximum screen brightness and sound volume, even though the phone was previously turned off in silent mode. With root, I managed to get rid of it, so the phone can boot faster.

  • Unlocking the operator limitation
    Unlike the previous one, my second Android phone this time not only supports CDMA, but already has Dual SIM feature: slot 1 for CDMA, and slot 2 for GSM. But apparently, the GSM will only work if RUIM (SIM) from a certain operator is installed on the CDMA slot. Well, this is where root comes back in. With the help of some tutorials on the Internet, I was able to unlock it.

  • Removing the shutter sound
    Still on the same phone. Every time you capture a photo, this phone will produce a shutter sound. Just like the first point, this behavior is ignoring the silent mode state. Many said that this feature was made for privacy reasons, so the users cannot take photos silently without permission from the subject. This behavior is often found on Korean brand mobile phones. However, with root, this limitation can be removed.

  • Unlocking the 4G network because of TKDN
    Now let's move on to my latest phone which I still use today. This phone also has a Dual SIM feature, but it is more open. Not only it supports CDMA-GSM, but any combination of them like CDMA-CDMA, GSM-GSM, or GSM-CDMA. The only drawback is that it turns out that this phone did not pass Domestic Component Level (TKDN). It means that when used with Indonesian operators, the phone can only use the 3G network at best. So I did another rooting to be able to use its 4G feature.

What are the general benefits of rooting then?


We already discussed the specific benefits I got for each of my phones before, now I will share the benefits of rooting in general. This time you surely can get these benefits, no matter what devices you are using.

  • Removing unwanted applications
    Android phones usually came with various Google apps by default, which unfortunately cannot be uninstalled. Of course, not all of them are apps that you'll need or use later. Anyway, you can tell me in the comments section below which default apps that you don't use.

    I personally don't use these apps on my mobile phones: Google Chrome (I use Firefox), GMail (I use Yahoo! Mail even to log in to Google services such as PlayStore, YouTube, and Blogger Before GMail launched, any email can be used to register), Drive and Photos (I use OneDrive), Play Music and News Stand. Now, with root, you can remove them!

  • Deleting unnecessary factory reset backup
    If you pay enough attention, you probably notice that every time there is an app update, actually the old versions (usually at least the one version from the latest operating system update) will not be deleted. This is the one that makes the older the phone, the less storage space left it has, even if you never added large files into it before.

    The purpose of this feature is for enabling the phone to be reseted to default settings (factory reset) or to a previously made restore point (system restore) if in case something unexpected happens. Well, for those who are willing to exchange the risk of not being able to restore those apps to the pre-installed version (settings can still be restored) with the remaining storage space, you can make it by integrating every apps update to the system by using root. Then, you will have more space available for your favorite apps and games, or large files like photo 360 in the earlier post.

  • Backing up apps with no synchronization
    Although many applications use online synchronization to store their user data, in fact not all of them do so. To name a few, we can look at the apps that don't require an Internet connection to be working, such as Clock or Calculator, and games that are intentionally made offline. Data from these apps cannot be moved to a new device, and of course also will be gone when we uninstall the apps.

    With root, you can back up any apps, whether they're pre-installed on the system or installed by yourself. No need to hesitate anymore when you want to delete a game (in case you start getting bored with it). No more mess too when you want to replace your phone. When you want to use it again, whether it's on an old or new device, you just need to restore the backup you previously made. The game will continue right at the moment when you leave it, without having to start over. The app will already use settings and customizations you have made, without having to reconfigure.

So, are there any disadvantages from rooting?



Automatic Response/"UAC"
settings screen on
Magisk Manager apps
More or less, that's about the benefits you can get by rooting your phones and also the reason why I did it to my own phones. Quite a lot, right? But beyond those various benefits, you might also be wondering are there any disadvantages from it also. Moreover, it seems quite a lot of people don't recommend it.

Actually root is similar to the "Run as administrator" feature on Windows. Applications with granted access can change, add, or even remove anything, from system settings to other applications data, which originally cannot be accessed by them.

Just like "User Account Control" (UAC) on Windows, you can set whether manual confirmation (prompt) is required every time the apps are trying to make changes or not. If not enabled, any application, including those with malicious intent, will always have granted access. Sounds a bit dangerous right? Therefore, I recommend you only install trusted apps on rooted phones.

Besides the greater risk from "bad" apps when the phone has been rooted mentioned earlier, other disadvantages can also arise from "good" apps. As I mentioned before, some apps (usually banking related) prohibit usage on rooted phones for security reasons. Actually this can be tricked, but I'll save the discussion first for another Isamu no Heya post.

Final words,


That's all for this time post. For those of you who haven't tried root before, have you become interested after knowing all of these? Don't forget to share your opinions in the comments below. As for those who have doubts, I hope this post can give some insights and make your doubts cleared. Finally, for those who have already tried, what feature from root that you are using now? Please share your experience in the comments below.

See you in the next post!

See also

01 June 2020


Pengalaman menggunakan ponsel root, beserta alasannya

This post is also avaiable in English. The translated post can be found here: My rooted Android phone and how it came.

Halo, selamat datang kembali di Isamu no Heya. Kali ini, saya kembali dengan kiriman Pengalaman. Kalau biasanya di kategori pengalaman ini saya menceritakan perjalanan wisata saya, pada kesempatan ini saya akan menceritakan pengalaman saya selama menggunakan ponsel yang di-root.

Mengapa ponsel harus di-root?



Android
Sejak pertama kali kenal dengan ponsel Android, saya selalu menggunakan ponsel yang telah di-root hingga kini. Para pembaca mungkin bertanya-tanya mengapa. Saya juga beberapa kali mendapat pertanyaan serupa secara langsung. Termasuk dari rekan kerja juga yang sama-sama bekerja di perusahaan jasa keuangan yang biasa aplikasinya juga tidak dapat digunakan pada ponsel root. Sedikit bertentangan memang.

Pada akhirnya, root tetap saya pertahankan pada ponsel saya. Jika tidak, rasanya ponsel ini tidak dapat digunakan secara maksimal. Karena itulah saya harus menge-root ponsel yang saya miliki. Sepanjang pengalaman dengan ponsel root ini, saya selalu menemukan lebih banyak manfaat dibandingkan kerugiannya.

O ya, pada kiriman ini, saya tidak mengajarkan bagaimana cara menge-root ponsel ya, karena tentunya sudah banyak tutorialnya di luar sana yang bahkan penjelasannya dikhususkan untuk setiap tipe perangkat. Namun, saya akan membagikan manfaat-manfaat yang telah saya dapatkan sejauh ini.

Apa saja yang didapat dengan menge-root ponsel-ponsel tertentu?


Pertama-tama, mari kita mulai dengan alasan spesifik. Saya akan menjelaskan mengapa saya melakukannya ke setiap dan masing-masing ponsel yang saya miliki. Karena manfaat yang saya sebutkan ini bersifat khusus untuk perangkat tertentu, diharapkan kalian meneliti lebih lanjut apakah bisa diterapkan pada perangkat masing-masing.

  • Menghilangkan animasi boot
    Saya menerapkan ini pada ponsel Android pertama saya yang dipasarkan oleh salah satu operator CDMA waktu itu. Jadi, setiap menyalakan ponsel tersebut, logo operator tersebut ditampilkan cukup lama lengkap dengan animasi. Tentunya juga dengan kecerahan layar dan volume maksimal, walaupun ponsel sebelumnya dimatikan dalam mode diam (silent). Dengan root, saya berhasil menghilangkannya, sehingga ponsel dapat booting dengan lebih cepat.

  • Membuka kunci operator
    Berbeda dengan ponsel pertama, ponsel kedua saya kali ini tidak hanya mendukung CDMA, tapi sudah Dual SIM: slot 1 untuk CDMA, dan slot 2 untuk GSM. Namun ternyata, GSM-nya hanya dapat berfungsi jika di slot CDMA terpasang RUIM (SIM) dari operator tertentu. Nah, di sinilah root kembali berperan, dengan bantuan dari tutorial lain di Internet, saya berhasil membuka kunci tersebut.

  • Menghilangkan shutter sound
    Masih di ponsel saya yang kedua. Setiap mengambil foto, ponsel pasti mengeluarkan suara jepretan (shutter sound), dan sama seperti poin pertama, tanpa mempedulikan mode diam (silent) atau tidak. Hal ini katanya dibuat untuk alasan privasi sehingga pengguna tidak dapat memfoto secara diam-diam tanpa izin dari yang difoto. Pengaturan ini sering dijumpai pada ponsel merk Korea. Bagaimana pun juga, dengan root, batasan ini dapat dihilangkan.

  • Membuka jaringan 4G karena TKDN
    Sekarang kita beralih ke ponsel yang masih saya gunakan hingga kini. Ponsel ini memiliki fitur Dual SIM yang lebih terbuka. Tidak hanya bisa CDMA-GSM, namun bisa juga CDMA-CDMA, GSM-GSM, maupun GSM-CDMA. Satu kekurangannya, ternyata ia tidak lolos Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Artinya, saat digunakan dengan operator Indonesia, ponsel hanya bisa menggunakan jaringan 3G maksimal. Maka saya kembali melakukan root agar dapat menggunakan fitur 4G-nya.

Lalu, apa saja manfaat menge-root secara umum?


Nah, kalau di atas tadi kita sudah membahas manfaat khusus apa saja yang didapatkan secara spesifik pada masing-masing ponsel saya, sekarang saya akan membagikan manfaat root secara umum. Pastinya manfaat ini bisa kalian dapatkan, apa pun perangkat yang digunakan.

  • Menghapus aplikasi yang tidak diperlukan
    Ponsel Android umumnya sudah dilengkapi berbagai aplikasi Google bawaan yang sayangnya tidak bisa dibongkar/copot pemasangannya (uninstall). Tidak semuanya kalian pakai dan perlukan tentunya. Yuk bagikan di kolom komentar aplikasi bawaan apa saja yang tak kalian pakai.

    Saya sendiri tidak menggunakan aplikasi berikut di ponsel: Google Chrome (karena ada Firefox), GMail (karena ada Yahoo! Mail yang bahkan saya gunakan untuk masuk ke layanan Google seperti PlayStore, YouTube, dan Blogger Dulu sebelum GMail ada, email mana pun bisa digunakan untuk mendaftar), Drive dan Photos (karena ada OneDrive), Play Music, dan News Stand. Nah, dengan root, kalian bisa menghapusnya!

  • Menghapus cadangan factory reset yang tidak diperlukan
    Kalau kalian perhatikan, sebenarnya setiap ada pembaruan (update) aplikasi, versi lama (biasanya setidaknya versi saat pemutakhiran sistem operasi terakhir) akan dipertahankan di ponsel. Inilah salah satu penyebab semakin lama usia ponsel, semakin sedikit pula ruang penyimpanan yang tersisa meski tidak ada berkas berukuran besar ditambahkan ke dalamnya.

    Fitur bertujuan agar ponsel dapat dikembalikan ke setelan pabrik (factory reset) atau ke titik pemulihan (system restore) jika terjadi hal yang tak diinginkan. Nah, bagi yang ingin menukar risiko tidak dapat mengembalikan aplikasi ke versi bawaan (untuk pengaturan tetap dapat dipulihkan) dengan sisa ruangan penyimpanan, kalian bisa mewujudkannya dengan mengintegrasikan setiap pembaruan aplikasi ke sistem lewat root. Otomatis lebih banyak ruang tersedia untuk aplikasi dan permainan favorit, atau berkas berukuran besar seperti foto 360 pada bahasan sebelumnya.

  • Membuat cadangan aplikasi tanpa sinkronisasi
    Meski banyak aplikasi yang menggunakan sinkronisasi daring (online sync) untuk menyimpan data penggunanya, namun nyatanya tidak semua demikian. Sebut saja aplikasi yang memang tidak memerlukan koneksi Internet saat dipakai, seperti Jam atau Kalkulator, dan permainan yang memang sengaja dibuat luring (offline games). Data aplikasi ini tidak dapat dipindahkan ke perangkat baru, dan tentunya juga akan hilang saat dibongkar pemasangannya (uninstall).

    Dengan root, kalian dapat membuat cadangan aplikasi apapun, baik bawaan sistem maupun yang dipasang sendiri. Tidak perlu ragu lagi saat menghapus permainan (misalkan saat sudah mulai jenuh dengannya). Tidak perlu repot juga saat ingin mengganti ponsel. Saat kalian ingin menggunakannya kembali, baik di perangkat lama maupun baru, cukup pulihkan cadangan yang sebelumnya dibuat. Permainan akan dilanjutkan tepat di saat kalian meninggalkannya tanpa harus mengulang dari awal. Aplikasi pun akan sudah menggunakan pengaturan dan kustomisasi yang dibuat tanpa harus melakukan konfigurasi ulang.

Jadi, apakah ada kerugian root?



Layar pengaturan Automatic
Response/"UAC" pada aplikasi
Magisk Manager
Begitulah kurang lebih manfaat-manfaat yang bisa kalian dapatkan dan juga alasan mengapa saya selalu menge-root ponsel. Cukup banyak bukan? Tapi di balik beragam manfaat di atas, para pembaca mungkin juga bertanya-tanya apakah ada juga kerugiannya. Apalagi rasanya cukup banyak orang yang tidak menyarankannya ya.

Sebenarnya root ini mirip dengan fitur "Run as administrator" (Jalankan sebagai administrator) pada Windows. Aplikasi yang diberikan akses dapat mengubah, menambah, atau bahkan menghapus pengaturan sistem hingga data aplikasi lain yang seharusnya tidak dapat mereka akses.

Sama pula seperti "User Account Control" (Kontrol Akun Pengguna — UAC) di Windows, kalian dapat mengatur apakah konfirmasi manual (prompt) diperlukan setiap pertama kali aplikasi mencoba melakukan perubahan. Jika tidak diaktifkan, aplikasi apa pun, termasuk yang dengan niat jahat, akan selalu diberikan akses. Terdengar agak berbahaya bukan? Maka dari itu, sebaiknya hanya pasang aplikasi terpercaya pada ponsel root.

Selain ada risiko yang lebih besar dari aplikasi "jahat" ketika ponsel sudah di root tadi, kerugian lainnya juga bisa datang dari aplikasi "baik". Seperti yang sempat saya sebutkan di awal, beberapa aplikasi (biasanya perbankan) melarang penggunaannya pada ponsel yang telah di-root dengan alasan keamanan. Sebenarnya hal ini dapat disiasati sih, tapi saya simpan dulu pembahasannya untuk kiriman Isamu no Heya lainnya.

Akhir kata,


Demikianlah kiriman kali ini. Bagi yang belum mencoba root, apakah kalian menjadi tertarik setelah mengetahui hal ini? Yuk bagikan pendapat kalian di kolom komentar. Sedangkan bagi yang sempat ragu, saya harap kiriman ini dapat menambah wawasan dan mengobati keraguan kalian. Terakhir, bagi yang sudah mencoba, untuk apa saja kalian gunakan fitur root ini? Silakan bagikan pengalaman kalian di kolom komentar.

Sampai jumpa di kiriman selanjutnya!

Lihat pula

27 May 2020


Indeks Ziarah Anime

Hai, selamat datang kembali di blog 'Isamu no Heya', dan ini adalah kiriman saya yang pertama dalam tahun 2020 ini.

Jika Anda mengikuti saya di Facebook, tentunya pernah melihat unggahan foto-foto hasil wisata saya. Walaupun di blog ini sebenarnya saya juga pernah membagikan beberapa di antaranya melalui kiriman berkategori Wisata, namun jumlahnya tidak terlalu banyak.

Nah, kalau Anda sempat membaca kiriman blog saya beberapa tahun lalu, saya pernah menceritakan bahwa saya menyukai anime dan manga. Maka dari itu, tentunya wajar bagi saya untuk menyempatkan diri di sela-sela beberapa perjalanan wisata dan melakukan ziarah anime, atau yang dalam bahasa Inggrisnya disebut anime pilgrimage.


Saya di tangga samping Yotsuya Suga
Jinja, salah satu latar Kimi no Na wa
Bagi yang belum tahu, ziarah anime adalah kegiatan berburu dan mengunjungi lokasi nyata "tempat suci" yang menjadi latar dari suatu anime. Melalui kiriman kali ini, saya ingin sedikit membagikan foto-fotonya.

Jika ada kesempatan, tentunya tidak hanya foto yang akan saya bagikan, namun rencananya saya juga akan menyertakan pengalaman ziarah anime tersebut. Tentunya secara lebih rinci beserta alamat lokasi tersebut agar para pembaca Isamu no Heya di sini juga dapat merasakannya sendiri.

Indeks ini sendiri akan secara rutin diperbarui jika ada kiriman baru berkategori Ziarah Anime lainnya di masa depan.

Berikut ini adalah album foto di Facebook hasil dari beberapa perjalanan tersebut, diurutkan berdasarkan abjad anime asalnya.
Lalu, apakah Anda memiliki saran mengenai lokasi anime lainnya? Jika ada, silakan berikan informasi lokasi tersebut pada kolom komentar di bawah. Barangkali saya akan mengunjunginya dan kemudian mengirimkan foto beserta pengalamannya di blog Isamu no Heya ini!

27 April 2017


Tata cara dan persyaratan membuat visa Jepang

Hai, apa kabar para pembaca Isamu no Heya? Semoga semuanya masih dalam keadaan baik. Tak terasa sudah setengah tahun terlewati semenjak saya menuliskan kiriman terakhir tentang cara mengunduh stiker LINE di blog ini. Kalau ditanya sedang sibuk apa sehingga tidak sempat menulis lagi, mungkin salah satu jawabannya adalah karena saya sedang mengurus rencana perjalanan saya ke Jepang. Nah, berhubung visa saya sudah jadi, dan juga kebetulan ada beberapa tanggal merah (hari libur) di bulan ini, maka saya sempatkan untuk menulis kembali.

Masih sedikit berkaitan dengan kiriman sebelumnya, pada kesempatan kali ini saya juga ingin membagikan mengenai cara melakukan sesuatu, alias tutorial. Namun, tidak lagi berkaitan dengan komputer. Pada kiriman kali ini saya akan membahas bagaimana tata cara dan persyaratan dalam membuat, atau mengajukan permohonan, visa Jepang.




Visa adalah hal yang harus diurus pertama?


Bagi yang suka dengan anime dan manga seperti saya, pasti Jepang menjadi salah satu tujuan wisata impian kalian. Bagi yang tidak pun, mungkin juga sempat terpikir untuk mengunjungi Jepang karena budayanya yang unik serta pemandangannya yang indah. Apa pun alasannya, ketika kalian sudah memutuskan untuk pergi ke Jepang, pasti terpikir juga mengenai pembuatan visanya.

Seandainya kalian sudah memesan penerbangan ke Jepang, tiket sudah di tangan, dan paspor pun sudah punya, jangan langsung tergesa-gesa untuk mengajukan permohonan pembuatan visa ke Kedutaan Besar (Kedubes) Jepang. Berhati-hatilah, karena tanpa persyaratan yang lengkap, permohonan kalian bisa ditolak. Atau parahnya lagi, misalkan kalian mengajukan permohonan di waktu yang tidak tepat, bisa saja visa kalian malah kedaluwarsa sebelum tiba waktunya terbang. Jika hal ini sampai terjadi, tentu uang yang sudah kalian keluarkan menjadi sia-sia.

Nah, melalui kiriman inilah, saya akan membahas mengenai apa saja yang diperlukan untuk membuat visa Jepang, dan kapan waktu yang paling tepat untuk mengajukan permohonan visa Jepang tersebut. Sembari melengkapi persyaratan tersebut, kalian juga bisa sekaligus mengurus penginapan dan jadwal perjalanan kalian.


Kedutaan Besar Jepang di Indonesia (Jakarta)

Jenis-jenis visa Jepang


Sebelum itu, mari kita lihat berbagai jenis visa yang ada. Berdasarkan informasi yang tertera di situs web Kedutaan Besar Jepang di Indonesia (在インドネシア日本国大使館), ada beberapa jenis visa Jepang, di antaranya adalah:
  • Visa Kunjungan Sementara, Sekali Kunjungan (Single Entry)
    • Untuk Tujuan Wisata dengan Biaya Sendiri
    • Untuk Tujuan Wisata dengan Mengikuti Paket Tur Berkelompok dari Agen Perjalanan (Travel Agent) yang Ditunjuk
    • Untuk Kunjungan Keluarga dengan Pengundang/Penjamin WN Jepang yang tinggal di Jepang
    • Untuk Kunjungan Keluarga dengan Pengundang/Penjamin WN Jepang namun tinggal di Indonesia
    • Untuk Kunjungan Teman
    • Untuk Keperluan Bisnis
  • Visa Kunjungan Sementara, Berkali-kali (Multiple Entry)
    • Untuk Kunjungan Wisata
    • Untuk Keperluan Bisnis
  • Visa Khusus
    • Untuk keperluan belajar, bekerja, pelatihan, dan menetap dalam jangka waktu tertentu
  • Visa Transit

Jadi, apakah kalian sudah tahu visa jenis apa yang akan kalian ajukan permohonan pembuatannya? Nah, sebelum melanjutkan, saya sampaikan terlebih dahulu bahwa fokus kiriman kali ini adalah untuk pembuatan jenis visa yang paling umum, yaitu "Visa Kunjungan Sementara untuk Tujuan Wisata dengan Biaya Sendiri, Sekali Kunjungan", yang digarisbawahi pada daftar di atas. Visa jenis inilah yang diperlukan jika bagi kalian yang memiliki paspor biasa non-elektronik.

 
Perbedaan paspor biasa (kiri) dan paspor elektronik (kanan)
Bagi yang suah memiliki paspor elektronik sesuai standar ICAO, kalian dapat memanfaatkan kemudahan bebas visa (waiver) dengan cukup datang ke Kedubes Jepang membawa paspor tersebut dan mengisi formulir pendaftaran singkat, lalu mengambil kembali paspor yang sudah dibubuhi stiker bebas visa setelah dua hari kerja, tanpa disertai biaya apa pun. Selangkapnya dapat dibaca di sini.

Untuk visa jenis lain, kalian dapat langsung mengecek tata cara dan biayanya di website Kedutaan Besar Jepang di Indonesia.

Persyaratan dokumen permohonan visa Jepang


Persayaratan dokumen yang diperlukan untuk mengajukan permohonan Visa Kunjungan Sementara bisa dilihat pada gambar di bawah ini. Termasuk di antaranya persyaratan untuk kelima jenis visa yang ada. Sedangkan untuk yang mengikuti Paket Tur Berkelompok dari agen/biro perjalanan, silakan konsultasikan dengan agen perjalanan kalian.


Persyaratan Dokumen Permohonan Visa Kunjungan Sementara ke Jepang.
Tanda O berarti dokumen tersebut diperlukan. (Klik-tengah gambar untuk memperbesar)
Berikut rincian untuk masing-masing dokumen yang diperlukan untuk pembuatan Visa Kunjungan Sementara untuk Tujuan Wisata dengan Biaya Sendiri ke Jepang:
  1. Paspor
    Untuk paspor yang diperlukan untuk jenis visa ini adalah paspor biasa non-elektronik. Pastikan juga masa berlaku paspor masih cukup lama, setidaknya masih tersisa enam bulan di awal perjalanan nanti.

  2. Formulir permohonan visa
    Formulir permohonan visa ini bisa diunduh di sini. Silakan diisi, boleh dengan ketikan maupun dengan tulisan tangan. Jika menggunakan tulisan tangan, pastikan tulisannya mudah dibaca. Jadi sangat disarankan untuk menggunakan huruf kapital lepas (block capital letters). Pastikan semua bidang yang ada terisi. Untuk yang memang tidak dapat/tidak perlu dijawab, dapat ditambahkan tanda strip panjang (—), atau diisikan "N/A".

    Setelah mencetak dan mengisi seluruh isian, jangan lupa untuk menempelkan foto diri dengan lem (jangan gunakan pengokot/staples) di awal formulir, serta membubuhkan tanda tangan basah (bukan cetakan komputer) pada akhir formulir. Untuk fotonya sendiri harus berukuran 4,5 × 4,5cm. Ukuran ini memang tidak umum, namun biasanya bisa dicetakkan oleh tempat cuci foto ternama, atau yang sering mengurusi visa. Selain itu, fotonya juga harus baru, diambil setua-tuanya 6 bulan yang lalu dari tanggal pengajuan, dan tanpa latar, bukan hasil editing, serta tidak buram.


    Formulir Permohonan Visa Jepang.
    (Klik-tengah gambar untuk memperbesar)

    Formulir ini menggunakan bahasa Inggris. Bagi yang kurang memahaminya, berikut terjemahannya:


    [HALAMAN PERTAMA]

    - Nama keluarga (sesuai paspor)
    - Nama pemberian dan nama tengah (sesuai paspor)
        - Nama lain (nama yang sedang atau pernah dikenali oleh orang lain)
    - Tanggal lahir (hari/bulan/tahun), Tempat lahir (kota, provinsi, negara)
    - Jenis kelamin (L/P), Status nikah (lajang/menikah/cerai-mati/cerai-hidup)
    - Warga negara
        - Warga negara sebelumnya atau ganda
    - NIK
    - Jenis paspor (diplomat/resmi (dinas)/biasa/lainnya)
    - Nomor paspor
    - Tempat terbit, Tanggal terbit (hari/bulan/tahun)
    - Pihak penerbit, Tanggal kedaluwarsa (hari/bulan/tahun)
    - Tujuan mengunjungi Jepang
    - Lama rencana kunjungan ke Jepang
    - Tanggal kedatangan
    - Bandara/pelabuhan kedatangan, Nama pesawat/kapal
    - Hotel/orang di mana pemohon berencana untuk menginap
        - Nama, Telepon
        - Alamat
    - Lama dan tanggal kedatangan kunjungan ke Jepang yang sebelumnya
    - Tempat tinggal saat ini
        - Alamat
        - Telepon, Nomor ponsel
    - Profesi/pekerjaan saat ini
    - Tempat bekerja
        - Nama, Telepon
        - Alamat



    [HALAMAN KEDUA]

    - Profesi/pekerjaan pasangan (atau orang tua jika pemohon adalah anak-anak)
    - Penjamin/pereferensi di Jepang (atau orang yang akan dikunjungi di Jepang)
        - Nama, Telepon
        - Alamat
        - Tanggal lahir (hari/bulan/tahun), Jenis kelamin (L/P)
        - Hubungan dengan pemohon
        - Profesi/pekerjaan dan jabatannya
        - Warga negara dan status imigrasi
    - Pengundang dari Jepang
        - Nama, Telepon
        - Alamat
        - Tanggal lahir (hari/bulan/tahun), Jenis kelamin (L/P)
        - Hubungan dengan pemohon
        - Profesi/pekerjaan dan jabatannya
        - Warga negara dan status imigrasi
    - Catatan/kondisi khusus
    - Apakah Anda pernah (Y/T):
    1. terlibat dalam tindakan kriminal atau pelanggaran hukum di suatu negara?
    2. dijatuhi hukuman penjara selama setahun atau lebih di suatu negara?
    3. dideportasi atau dikeluarkan dari suatu negara karena tinggal melebihi waktu yang ditentukan visa atau melanggar hukum dan peraturan?
    4. divonis bersalah dan dijatuhi hukuman karena pelanggaran obat-obatan karena melanggar hukum di suatu negara terkait narkotika, ganja, madat, zat stimulan/psikotropika?
    5. terlibat dalam prostitusi, atau menjadi penengah atau pembela atas seorang pekerja prostitusi, atau menyediakan tempat untuk prostitusi, atau mengadakan kegiatan lain yang secara langsung berkaitan dengan prostitusi?
    6. melakukan perdangan manusia, atau menghasut dan membantu orang lain dalam melakukannya?
    - Jika menjawab "ya" pada salah satu atau lebih pertanyaan di atas,
       mohon jelaskan rinciannya
    - Tanggal permohonan (hari/bulan/tahun), Tanda tangan pemohon


  3. Fotokopi KTP
    Fotokopi KTP ini tidak boleh digunting seukuran aslinya, harus dicetak di kertas A4. Tidak perlu diperbesar, dan tidak perlu bolak-balik, cukup halaman yang ada identitas (NIK)-nya saja.

  4. Fotokopi Kartu Mahasiswa/Kartu Pelajar/Surat Keterangan Belajar
    Fotokopi ini hanya perlu dilampirkan bila pemohon masih bersekolah. Sama seperti KTP, fotokopi ini tidak boleh digunting seukuran aslinya dan harus dicetak di kertas A4.

  5. Bukti pemesanan tiket pulang-pergi
    Pastikan untuk memfotokopi semua halamannya. Informasi tanggal dan waktu perjalanan, moda transportasi, serta rincian penumpang yang di dalamnya ada nama pemohon harus tercantum dengan jelas.

  6. Jadwal perjalanan
    Format jadwal perjalanan ini bisa diunduh di sini. Silakan diisi, boleh dengan ketikan maupun dengan tulisan tangan. Jika menggunakan tulisan tangan, pastikan tulisannya mudah dibaca. Jadi sangat disarankan untuk menggunakan huruf kapital lepas (block capital letters).

    Untuk tempat yang akan dikunjungi tidak perlu dituliskan alamat lengkapnya. Namun, usahakan sespesifik mungkin. Jadi jangan hanya menuliskan nama prefektur/distrik besarnya, tapi tulis kotanya atau bahkan tempat wisatanya. Misalkan, tuliskan "Shinjuku Gyoen" bukan hanya "Tokyo".

    Untuk tempat menginap, tuliskan nama hotelnya saja. Jika misalkan sedang dalam perjalanan dan tidak menginap di hotel, cantumkan nama dan rute dari kereta, bus, atau bandara tersebut. Jika menginap di rumah keluarga atau teman yang tidak tercantum pada formulir permohonan, tuliskan juga alamatnya.

    Setelah mencetak dan mengisi seluruh isian, jangan lupa membubuhkan tanda tangan basah (bukan cetakan komputer) pada akhir dokumen.


    Contoh Jadwal Perjalanan ke Jepang
  7. Fotokopi bukti keuangan
    Fotokopi bukti keuangan yang harus dilampirkan adalah yang tiga bulan terakhir sebelum mengajukan permohonan. Jika kalian memiliki buku tabungan, cukup fotokopi mutasi rekening kalian selama tiga bulan terakhir, serta halaman awal yang memuat nama pemilik dan nomor rekeningnya. Fotokopi ini tidak perlu dilegalisir oleh pihak bank.

    Sedangkan bagi kalian yang tidak memiliki buku tabungan, misalnya menggunakan rekening giro, tapres, atau bahkan Tahapan Xpresi BCA, tidak perlu khawatir. Kalian dapat mencetak e-statement (rekening koran elektronik) yang biasa dikirimkan setiap bulannya ke alamat email kalian, atau jika memang kalian memilih untuk menerima laporan bulanan tersebut melalui kiriman pos (non-elektronik), kalian cukup memfotokopi rekening koran yang dikirimkan tersebut.

    Khusus untuk BCA, rekening koran elektronik ini bisa kalian unduh ulang sendiri melalui KlikBCA. Setelah login, buka menu e-Statement, lalu pilih Tabungan dan Giro. Setelah itu pilih nomor rekening dan bulan yang diinginkan, lalu klik "Download". Kalian kemudian dapat mencetak PDF yang telah kalian unduh ini.


    Menu untuk mengunduh rekening koran elektronik di KlikBCA
  8. Jika upaya-upaya di atas gagal, misalkan kalian tidak memiliki buku tabungan, tidak pernah menerima kiriman rekening koran (baik lewat pos maupun email), dan ternyata di situs internet banking bank kalian tidak ada fitur untuk mengunduh rekening koran, maka upaya terakhirnya adalah datang langsung ke bank kalian. Kalian dapat meminta untuk dicetakkan rekening koran (atau mutasi rekening) kalian untuk tiga bulan terakhir. Namun, biasanya pihak bank akan meminta biaya tambahan atas layanan ini.

    Sebagai informasi, kalian dapat menyerahkan fotokopi dari beberapa rekening jika memang uang kalian tersebar. Jadi, tidak harus dikumpulkan semua ke dalam satu rekening untuk mencapai saldo minimum. Mengenai saldo minimum ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian selanjutnya.

  9. Fotokopi Kartu Keluarga, atau dokumen lain yang menunjukkan kekerabatan
    Jika penanggung jawab biaya, atau pemilik rekening pada nomor tujuh di atas, bukanlah kalian sendiri (misalkan dibiayai orangtua), maka harus dokumen yang menunjukkan hubungan kekerabatan antara penanggung jawab biaya dan pemohon (misalnya Kartu Keluarga) perlu difotokopi dan dilampirkan juga.
Banyak yang menyarankan bahwa kita harus juga melampirkan surat keterangan dari bank, surat keterangan mampu dari RT/RW, surat keterangan masih bekerja dan akan kembali bekerja setelah berlibur (untuk karyawan), surat izin usaha (untuk wiraswasta), dan surat referensi dari sekolah atau universitas (untuk pelajar). Namun sebenarnya hal ini tidak perlu. Visa saya pun dapat dibuat tanpa hambatan meskipun tidak menyerahkan surat-surat di atas. Dokumen yang wajib diserahkan sebenarnya hanyalah kedelapan poin yang sudah disebutkan di atas.

Permohonan yang diwakilkan dan jumlah dokumen yang diserahkan


Jika kalian pergi secara berkelompok (bersama-sama) namun tidak menggunakan jasa agen/biro perjalanan, salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: Dapatkah permohonan diwakilkan, dan perlukah dokumen digandakan sejumlah pemohon? Di Isamu no Heya ini, saya akan membahasnya lebih lanjut.

Pada prinsipnya, pengajuan permohonan visa harus dilakukan oleh pemohon yang bersangkutan secara langsung di loket visa Kedutaan Besar Jepang. Jadi, jika kalian berencana ke Jepang bersama teman-teman kalian, maka masing-masing dari kalian harus membuat permohonan sendiri-sendiri dengan dokumen yang terpisah, serta datang langsung ke lokasi.

Namun, pengajuan permohonan visa bisa diwakilkan oleh keluarga atau staf kantor lain bila pemohon adalah:
  • seorang anak berusia di bawah 16 tahun; atau
  • seorang lanjut usia di atas 60 tahun; atau
  • seseorang dengan keterbelakangan fisik; atau
  • seseorang dengan paspor diplomat atau dinas, dan ke Jepang untuk kunjungan dinas; atau
  • sekelompok orang yang menggunakan jasa agen/biro perjalanan yang telah ditunjuk Konsulat Jenderal Jepang.
    Sebagai informasi, saat artikel ini ditulis agen tersebut adalah ATS Vacation, Bayu Buana, HIS Tours, JTB Tour, dan JTB Indonesia.

Jika kalian adalah orang yang ditugaskan untuk mewakili pemohon yang memenuhi syarat di atas, dan kalian sendiri akan ikut pergi bersama dengan pemohon tersebut, maka dokumen tidak perlu digandakan seluruhnya. Tetapi harap dipastikan juga bahwa saat menyerahkan, dokumen orang yang mewakili ditaruh pada urutan pertama, sebelum dokumen milik orang-orang yang diwakili.

Contohnya, misalkan kalian akan pergi bersama orangtua atau mungkin kakek-nenek kalian yang sudah lansia, maka dokumennya cukup satu rangkap saja. Tidak perlu setiap orangnya menyerahkan salinan bukti pemesenan tiket, bukti keuangan, dan kartu keluarganya masing-masing. Hanya pemohon yang mewakilinya saja yang harus menyerahkan dokumen yang lengkap. Sedangkan untuk pemohon yang diwakili (orangtua kalian dalam kasus di atas) hanya perlu menyerahkan formulir aplikasi yang sudah ditandatangani, fotokopi identitas, dan jadwal perjalanan yang sudah ditandatangani saja.

Tapi jika pemohon akan pergi sendiri atau bersama dengan orang lain yang bukan mewakilinya saat pengajuan permohonan, maka dokumen yang diberikan tetap harus lengkap dan sendiri-sendiri.

Uang yang harus dipersiapkan untuk mengurus visa Jepang


Ada dua uang yang harus kalian persiapkan. Yang pertama adalah uang yang harus kalian simpan di rekening kalian sebagai persyaratan. Tentunya uang ini tidak akan diambil oleh pihak Jepang. Yang kedua adalah uang yang harus kalian keluarkan untuk membayar biaya pembuatan visa Jepang kalian. Mari kita bahas yang pertama terlebih dahulu.
  1. Saldo rekening minimum


    Contoh rekening koran BCA
    Banyak yang menyebutkan bahwa setiap orang yang ingin liburan ke Jepang harus memiliki setidaknya uang sejumlah Rp 30.000.000 (tiga puluh juta rupiah) di rekeningnya. Bahkan ada beberapa agen perjalanan yang menyatakan bahwa pemohon harus memiliki uang Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah). Tentu hal ini agak mengejutkan, terutama untuk orang yang memang dananya berada di bawah angka tersebut. Tapi, kabar baiknya adalah persyaratan tersebut tidak benar, jadi kalian bisa sedikit merasa lega.

    Untuk angka pasti berapa saldo minimal tabungan kita memang tidak diinformasikan di situs web Kedubes Jepang. Namun jika kalian memiliki uang setidaknya Rp 1.500.000 (satu setengah juta rupiah) untuk setiap hari yang akan kalian lewati di Jepang seharusnya sudah cukup aman. Dengan kata lain, jika kalian ingin mengunjungi Jepang selama 5 (lima) hari, maka siapkanlah setidaknya Rp 7.500.000 (tujuh setengah juta rupiah), sedangkan untuk 10 (sepuluh) hari, siapkanlah setidaknya Rp 15.000.000 (limabelas juta rupiah).

    Di Internet pun, sudah ada beberapa kisah wisatawan yang dapat pergi ke Jepang, meskipun tabungannya tidak menyentuh angka delapan digit (di bawah sepuluh juta rupiah). Salah satunya, dapat kalian baca di sini.

    Namun jika memang kalian memiliki lebih dari itu, tentunya akan lebih baik. Selain itu, agar lebih meyakinkan, kalian dapat menyertakan bukti pemesanan kamar hotel kalian walaupun sebenarnya tidak diminta. Jika kalian menggunakan penyedia jasa yang mengharuskan kalian untuk membayar di awal (bukan pada saat check-in hotel di Jepang nanti), seperti AirBNB atau Tiket.com, melampirkan voucher hotel yang menunjukkan nama kalian dan bukti pembayaran akan semakin meyakinkan.

  2. Biaya pembuatan visa Jepang

    Sekarang, kita lanjut ke keperluan uang yang kedua, yaitu untuk pembuatan visa Jepangnya itu sendiri.

    Biaya pembuatan visa Jepang per 1 April 2017 adalah sebagai berikut:
    - Visa sekali kunjungan: Rp 370.000
    - Visa kunjungan berkali-kali: Rp 740.000
    - Visa transit: Rp 90.000

    Untuk biaya terkini, silakan cek di situs web Kedutaan Besar Jepang di Indonesia. Biasanya harga naik di bulan April.

Waktu yang tepat untuk mengajukan permohonan


Bila kalian sudah memenuhi segala persyaratan dokumen dan administrasinya, maka langkah selanjutnya adalah menentukan kapan kalian akan mengajukan permohonan pembuatan visanya ke Kedubes Jepang. Visa Jepang berlaku selama 90 (sembilan puluh) hari sejak diterbitkan. Jadi, misalkan visa Jepang kalian diterbitkan di awal Januari, pastikan kalian sudah menyelesaikan seluruh perjalanan kalian di Jepang dan kembali ke Indonesia di akhir Maret nanti. Jika ternyata kalian harus terbang di April, sedangkan visa kalian terbit di Januari, maka kalian harus membuat visa ulang, karena di bulan Maret visa kalian sudah kedaluwarsa.

Jadi idealnya, ajukanlah permohonan visa kalian di sekitar 30-45 hari sebelum memulai perjalanan. Dengan demikian, jika sewaktu-waktu kalian perlu menunda atau memajukan jadwal perjalanan hingga satu bulan ke depan atau ke belakang pun, visa kalian masih bisa tetap berlaku. Jika terlalu awal, bisa jadi visa kalian menjadi kedaluwarsa apalagi jika ada penundaan jadwal. Jika terlalu lambat, bisa jadi visa kalian belum selesai apalagi jika sedang musim liburan. Jadi, pertimbangkanlah dengan baik.

Pastikan juga tanggal yang kalian pilih bukanlah di hari Sabtu atau Minggu, tidak berbarengan dengan hari libur kedutaan, maupun dengan acara kedutaan lainnya. Hari libur dan acara kedutaan bisa kalian lihat di sini.

Lokasi dan akses ke Kedubes Jepang


Langkah selanjutnya adalah menyerahkan seluruh persyaratan yang telah kalian lengkapi sebelumnya. Untuk kalian yang tinggal di Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, dan Lampung, kalian dapat menyerahkannya ke:

Bagian Konsuler Kedutaan Besar Jepang di Jakarta
Jl. M.H. Thamrin No. 24
RT.9/RW.5, Gondangdia, Menteng,
Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10350.
Telepon: (021) 3192-4308


Peta lokasi Kedutaan Besar Jepang di Indonesia (Jakarta)



PEMBARUAN:
Mulai 15 September 2017, Bagian Konsuler Kedutaan Besar Jepang di Jakarta tidak lagi menerima permohonan pembuatan visa. Permohonan kini dapat dilakukan melalui Japan Visa Application Center (JVAC) yang terletak di Lotte Shopping Avenue lantai 4.


Sedangkan untuk yang tinggal di provinsi lain, dapat menyerahkannya ke Kantor Konsuler Jepang yang sesuai dengan wilayah yurisdiksinya masing-masing. Daftar lengkapnya bisa kalian periksa di sini.

Kedubes Jepang di M.H. Thamrin ini paling mudah diakses dengan menggunakan taksi, karena kalian bisa langsung berhenti di depannya. Jika naik ojek, kalian dapat berhenti di Pintu Timur Plaza Indonsia dekat Bundaran Hotel Indonesia. Jl. M.H. Thamrin ini tidak boleh dilalui oleh sepeda motor, maka kalian harus berjalan kaki sedikit ke arah utara untuk mencapai lokasi.

Alternatif lainnya adalah dengan menggunakan Transjakarta. Kalian bisa berhenti di Halte Sarinah, lalu naik bus tingkat city tour yang ke arah Blok M dan turun di Pemberhentian Plaza Indonesia, lalu sedikit berjalan balik arah ke Utara untuk mencapai lokasi. Untuk yang membawa kendaraan pribadi, bisa memarkirkannya di sekitar Jl. Kebon Kacang.

Mengajukan permohonan


Dokumen sudah lengkap, lokasi Kedubes Jepang sudah diketahui, waktu pengajukan sudah dipilih, maka langkah selanjutnya yang pasti sudah ditunggu-tunggu, adalah mengajukan permohonan visanya.

Sebelum berangkat, pastikan sekali lagi dokumen persyaratan kalian sudah lengkap. Untuk menyatukan dokumen-dokumen tersebut dapat menggunakan klip kertas (jangan gunakan pengokot/staples). Pastikan seluruh dokumen-dokumen kalian dicetak dalam ukuran kertas yang sama, yaitu ukuran A4; serta masih dalam keadaan rapi (tidak dilipat maupun ditekuk).


Antrean masuk ke Kedubes Jepang.
Saat foto ini diambil, antrean sudah mengular hingga tiga barisan.
Bagi yang pertama mengurus visa di Kedubes Jepang mungkin akan sedikit membingungkan. Walaupun tempatnya cukup luas (ada perpustakaan, pusat budaya, bagian pengurusan visa, akta, sertifikat, dan lain-lain), namun petunjuk arahnya tidak terlalu banyak. Petugasnya pun biasanya tidak menginformasikan apa-apa, kecuali jika ditanya. Nah, supaya kalian tidak tersesat dan bingung di sana, berikut gambaran langkah-langkah untuk mengurus visa:
  1. Datang ke Kedubes Jepang antara pukul 08.30 hingga 12.00 pagi.
    Untuk menghindari antrean, datanglah lebih pagi. Biasanya pukul delapan pagi pun antrean sudah mulai panjang. Atau, bisa juga agak siangan, misalkan pukul sepuluh agar antrean sudah mulai pendek.
  2. Antre di depan pintu besi, atau di barisan yang sudah disediakan jika memang antrean sudah panjang.
  3. Masuk melalui pintu besi jika sudah diizinkan.
    Petugas akan menentukan beberapa banyak orang yang boleh masuk bersamaan, biasanya sekitar 10-15 orang.
  4. Antre kembali di depan loket.
  5. Menukarkan kartu identitas (KTP) dengan kartu nomor masuk di depan loket.
  6. Masuk melalui pintu besi lainnya yang berada di sebelah kiri loket.
  7. Meletakkan benda-beda logam seperti kunci, koin, ponsel, dan sebagainya ke dalam baki yang telah disediakan.
  8. Melewati pendeteksi logam dan pemeriksaan keamanan oleh petugas.
  9. Ambil kembali benda-benda yang tadi kalian letakkan di baki.
  10. Keluarlah melalui pintu besi lainnya yang berada di belakang pendeteksi logam.
  11. Kalian sekarang akan berada di luar ruangan. Masuki gedung yang ada di depan kalian melalui pintu kaca.
  12. Di dalam gedung, kalian akan menghadapi pertigaan.
    Ada tangga naik di depan kalian, serta ada jalan ke kiri dan ke kanan.
    Beloklah ke kiri, dan masuklah ke dalam ruangan melalui pintu kaca lagi.
  13. Di dalam ruangan, carilah mesin pencetak nomor antrean di dekat loket.
  14. Tekanlah tombol merah pada mesin yang dilabeli huruf "A".

    Wujud kertas nomor antrean,
    dan kartu nomor masuk di bawahnya
  15. Ambillah nomor antrean yang sudah dicetak.
  16. Perhatikan tampilan nomor antrean di atas loket-loket "A" setiap ada bunyi bel.
    Setiap bel berbunyi, nomor pada salah satu loket tersebut akan berubah.
    Tidak seperti di bank atau antrean lainnya, tidak ada orang atau pun rekaman yang mengatakan: "Nomor antrean X, silakan ke konter X". Jadi perhatikanlah dengan baik. Jangan sampai nomor kalian terlewat.

  17. Datangilah loket "A" yang di atasnya tertera nomor antrean kalian.
  18. Serahkan semua dokumen persyaratan kalian.
  19. Petugas di sana mungkin akan menanyakan beberapa hal mengenai perjalanan kalian. Jawablah dengan singkat dan jelas.
  20. Ambil kertas tanda terima dokumen yang telah diisi oleh petugas.
  21. Keluarlah dari ruangan dan gedung tersebut melalui pintu kaca yang sama.
  22. Di luar gedung, masuklah melalui palang besi berputar yang ada di depan kalian
    (Jangan masuk melalui pintu besi yang ada pendeteksi logamnya lagi).
  23. Antre kembali di depan loket.
  24. Menukarkan kartu nomor masuk dengan kartu identitas (KTP) di depan loket.
  25. Keluar melalui pintu besi yang kalian temui saat pertama kali datang.
Jika semuanya sudah lengkap, kalian bisa pulang dan menunggu kabar selanjutnya. Jika ada dokumen yang kurang, mungkin kalian akan diminta kembali lagi sebelum pukul 12 siang untuk melengkapi kekurangan tersebut agar tetap dapat diproses di hari yang sama.

Bila kalian memerlukan jasa cetak maupun fotokopi kalian bisa mengunjungi kios jasa pencetakan foto yang terletak di lantai LB The Plaza Office Tower yang berada persis di samping gedung Kedubes Jepang ini. Namun, memang cukup mahal harganya, yaitu Rp 3.000 per lembarnya untuk cetakan hitam-putih. Jika ingin harga yang lebih terjangkau, kalian bisa pergi sedikit lebih jauh ke arah Utara dan mengunjungi toko alat tulis kantor di sisi sebelah kanan gedung Sarinah.

Mengambil visa


Jika tidak ada masalah, visa Jepang seharusnya akan selesai dibuat dalam tiga hari kerja. Petugas di sana juga pastinya sudah memberitahukan kapan kalian dapat kembali ke Kedubes Jepang untuk mengambil visa kalian.

Jika dalam rentang waktu itu kalian tidak ditelepon, berarti tidak ada masalah. Tapi jika kalian ditelepon, berarti kalian harus datang kembali ke Kedubes untuk melengkapi dokumen yang diminta, lalu menunggu tiga hari kerja lagi.

Jika harinya sudah tiba, ingatlah untuk membawa kertas tanda terima dokumen serta uang untuk membayar visa kalian. Siapkanlah uang pas, karena kelebihan pembayaran tidak dikembalikan. Walaupun hal ini kurang umum di Indonesia, tapi hal ini sama halnya ketika kalian membayar ongkos bus di negara lain, termasuk di Jepang sendiri. Uang yang sudah diserahkan, tidak dapat diambil kembali, dan tidak ada kembali.

Untuk langkah-langkahnya sebenarnya cukup mirip dengan pada saat mengajukan permohonan visanya. Bedanya adalah kali ini kalian harus datang ke Kedubes Jepang antara pukul 13.30 hingga 15.00 pagi. Yang perlu diserahkan adalah tanda terima dan uang. Yang perlu diambil adalah paspor kalian yang sudah dilengkapi dengan visa Jepang, dan kuitansi (bukti pembayaran) kalian. Sisanya sama persis, bahkan nomor antrean yang diambil pun tetap yang berlabel "A". Nomor antrean "B" umumnya ditujukan untuk WN Jepang yang tinggal di Indonesia untuk pengurusan surat-surat dan akta lainnya.

Penutup



Visa Jepang
Semoga kalian tidak menemui hambatan dalam mengurus visa Jepang ini, dan dapat segera kalian terima visanya. Terima kasih sebelumnya sudah membaca dan mengikuti petunjuk-petunjuk di kiriman Isamu no Heya ini. Saya harap informasi yang disajikan di sini sudah cukup jelas dan dapat membantu kalian. Kalian dapat membagikan tautan ke kiriman ini di media sosial kalian tanpa perlu izin sebelumnya, agar lebih banyak yang terbantu pembuatan visa Jepang-nya.

Namun, jika kalian merasa ada informasi yang kurang atau salah, atau misalkan kalian ingin menanyakan sesuatu mengenai pembuatan visa Jepang ini, jangan ragu untuk meninggalkan komentar di bawah. Akan saya jawabnya semampunya.

Akhir kata, sampai jumpa di kiriman selanjutnya, dan dukung terus Isamu no Heya!