Navigasi

09 September 2012


Saya dan Kesukaan akan Animanga

Halo, selamat berjumpa kembali di blog 'Isamu no Heya'! Ini adalah kiriman saya yang pertama kali dalam tahun 2012 setelah kosong 1 tahun lamanya setelah kiriman saya sebelumnya tentang perjalanan ke Tidung. Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi sedikit persiapan saya untuk dan pengalaman saya selama Anime Festival Asia Indonesia 2012, atau yang sering disingkat menjadi AFA ID 2012 yang baru saja berlangsung awal bulan ini; serta kesukaan saya terhadap anime dan manga.

Sekilas mengenai Anime Festival Asia

Logo AFA ID 2012
Sebelum itu, biarkan saya menjelaskan terlebih dahulu apa itu AFA. Mungkin beberapa pembaca di sini ada yang tidak mengetahui mengenai festival ini. Menurut Wikipedia bahasa Indonesia, yang sebenarnya saya sendiri juga yang menulis di artikel itu, Anime Festival Asia adalah sebuah konvensi anime yang diselenggarakan oleh Sozo dan Dentsu. Konvensi ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2008, di mana penyanyi Ichiro Mizuki dan May'n diundang sebagai bintang tamu utama. Sejak itu, konvensi ini rutin diadakan setiap tahun di Suntec Singapore International Convention and Exhibition Centre, Singapura.

Namun pada tahun 2012 ini, ada sesuatu yang berbeda dari AFA yaitu yang biasanya AFA hanya digelar di Singapura, kali ini diadakan di tiga negara yang berbeda — Malaysia (9-10 Juni 2012), Indonesia (1-2 September 2012), dan terakhir di Singapura (9-11 November 2012). Yah, hal ini sesuai dengan motto AFA tahun ini yaitu: "A whole new level". Karena AFA mengangkat motto a whole new level, saya juga mencoba a whole new level sebagai pecinta anime dan manga yaitu dengan ber-cosplay.

Awal mula keinginan untuk bercosplay

Mengenai keinginan saya untuk cosplay, mungkin bisa dibilang sudah timbul sejak SD di mana pada saat itu PlayStation sedang tren dan masih banyak anime yang ditayangkan di televisi pada hari Minggu. Entah mengapa saya merasa menggunakan pakaian atau properti yang sama seperti di anime, manga, atau permainan video nampaknya keren. Sempat merasa aneh juga karena pada saat itu saya belum tahu mengenai suatu kegiatan yang bernama cosplay ini. Maklum, dahulu tidak pernah terdengar ada acara-acara Jepang di televisi, dan ditambah lagi saya belum ada komputer berinternet di rumah.

Peralatan untuk pelajaran Kesenian
(Sumber gambar: nastysaint.multiply.com)

Lalu apa yang saya lakukan? Saya mencoba membuat properti dari bahan-bahan sisa pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian (KTK) dulu, salah satu pelajaran yang pernah saya dapat dari SD hingga SMP. Sedangkan di SMA, sudah dipisah menjadi tiga pelajaran berbeda — Seni Musik; Seni Tari yang biasanya harus membawa selendang; dan Seni Arsitektur yang harus membawa berbagai perlengkapan seperti buku gambar A3, penggaris 50 cm, penggaris mal, penggaris segitiga, busur, jangka, berbagai jenis pensil dan drawing pen, serta beberapa peralatan lainnya. Dari ketiga kesenian di atas, Seni Arsitektur lah yang paling sulit, selain harus benar benar teliti dalam mengerjakannya dan harus menghafal teknik dan rumus-rumus menggambar objek dan bangunan, salah beberapa derajat atau sentimeter saja sudah akan mengurangi nilai.

Kembali ke topik utama. Salah satu properti yang saya buat adalah armband milik Reid Hershel dari permainan "Tales of Eternia" atau lebih dikenal di Indonesia dengan nama "Tales of Destiny II" (berbeda loh dengan "Tales of Destiny 2"). Armband ini saya buat dengan bahan yang disebut kertas spotlight kalau tidak salah. Untuk meyakinkan desainnya, saya harus melihat kembali sampul CD permainannya, melihat status si Reid Hershel serta memutar-mutar karakternya di permainannya. Sayangnya permainan ini belum 3D dan gambar karakternya masih kecil, ya jadinya desainnya kurang lebih saja, dan seperti gambar di bawah ini lah hasilnya.

Armband Reid Hershel buatan sendiri.
Terakhir kali saya coba, armband ini sudah kekecilan dan tidak bisa dipakai seatas yang seharusnya seperti dahulu kala. Dan pada saat mau melepasnya, malah robek :(. Walaupun demikian, armband masih saya simpan di lemari kamar saya di rumah hingga kini, karena bisa dibilang ini adalah properti dari permainan video yang pertama kali saya buat.

Internet dan otaku

Seiring dengan berjalannya waktu, ketika saya sudah mengenal internet, saya mulai menyadari bahwa ternyata keinginan ini tidak lah aneh karena saya sudah mengetahui bahwa ternyata di luar sana ada juga orang yang suka terhadap anime dan manga (otaku) yang juga senang memerankan karakter kesukaannya (cosplay) seperti saya.

Di saat biasanya yang lain ke warnet untuk bermain permainan daring, misal Ragnarok atau Seal, saya biasanya ke warnet untuk mencari gambar-gambar anime serta lirik-lirik lagu anime dari AnimeLyrics dan menyimpannya di disket. Gambar-gambar yang bagus biasanya saya cetak di warnet, Rp. 5000 satu halamannya untuk yang berwarna. Sampai saat ini, gambar-gambar ini masih ada dan saya rekatkan pada dinding kamar saya di rumah bersama dengan poster lainnya. Untuk lirik-lirik lagu, biasanya saya cetak juga, tapi hitam-putih saja. Sampai saat ini, sudah ada ratusan lirik lagu anime yang saya cetak dan semua kertas-kertas ini masih tersimpan di lemari kamar saya di rumah hingga kini. Sedangkan berkas soft-copynya sudah menghilang entah kemana, hanya tersisa beberapa lirik saja yang ada soft-copynya.

Setelah gambar, saya mulai beralih untuk mengunduh musik dan video anime, biasanya dari Gendou. Dan disket sudah tidak memungkinkan lagi, sehingga mulai lah saya menggunakan CD-RW, satunya Rp. 5000. Saya biasanya sekali beli bisa sampai tiga. Soalnya satu CD-RW biasanya hanya bisa dipakai hingga sepuluh kali burn, sebelum akhirnya CD-RW tersebut menjadi transparan di beberapa bagian dan menjadi CRC bila dibaca dengan komputer.

Koleksi anime dan manga saya yang berwujud

D-3 digivice
(Sumber gambar: Digimon Wiki)
Selain berkas-berkas dari internet, saya juga mempunyai sesuatu yang wujud, misalnya saja figur Kabuterimon yang dapat diubah menjadi AtlurKabuterimon, tamagotchi, dan D-3 digivice. Digivice ini dahulu saya bawa ke mana pun saya pergi. Pada saat hari bebas di sekolah dulu, biasanya saya bawa juga digivice ini untuk dapat bertanding dengan pemilik digivice yang lainnya. Tamagotchi dan digivice tersebut sudah tidak saya mainkan dan saya simpan di rumah. Untuk tamagotchinya sendiri tombolnya sudah rusak, sedangkan digivicenya konektornya yang rusak sehingga tidak bisa dipakai lagi untuk tanding.

Saat-saat di universitas, tampaknya muncul tren membuat pepakura. Tentu saja saya juga ikut membuatnya. Pepakura pertama yang saya buat adalah Pikachu. Pepakura lainnya ada Poring, Inuyasha, dan Kagamine Len. Poring adalah yang paling mudah dibuat, sedangkan Inuyasha adalah yang paling sulit. Ada pula beberapa barang lainnya yang saya beli, seperti gantungan kunci Kagamine Len dan headband Naruto yang saya beli di My Hobby Town, dan gantungan kunci Meiko yang saya beli saat acara Ennichisai 2012.

Pajangan lainnya yang saya miliki saat di universitas adalah sebuah Gunpla yang saya dapatkan bulan lalu. Tidak menyangka juga akan mendapatkan Gunpla sebagai hadiah ulang tahun. Waktu membuka bungkus kado dan menemukan kotak Gunpla di dalamnya, saya membuka lagi kotaknya terlebih dahulu, siapa tahu isinya berbeda dari isinya (seperti hadiah untuk seseorang di DBA bulan sebelumnya). Namun ternyata tidak, isinya Gunpla sungguhan yaitu Gundam Wing Endless Waltz XXXG-01W (SD). Terima kasih buat tim RDT-DBA yang telah membelikan ini untuk saya.

Pepakura yang pernah saya buat.
Dari kiri ke kanan:
Poring, Kagamine Len, Pikachu, dan Inuyasha.
Gunpla Gundam Wing Endless Waltz XXXG-01W (SD).
Butuh sekitar tiga jam untuk merakitnya.


Dan per AFA ini, saya membawa kesukaan saya akan anime dan manga ini ke tingkatan yang lebih baru yaitu cosplay. Menurut saya, cosplay adalah salah satu cara untuk menunjukkan bahwa kita adalah penggemar anime dan manga. Mengenai karakter apa yang saya perankan, bagaimana saya bisa mendapatkan kostumnya, serta pengalaman saya di Anime Festival Asia Indonesia akan saya bahas pada kiriman saya selanjutnya di blog ini.

Sebagai penutup, berikut ini adalah kutipan dari Danny Choo yang saya suka,

"Bagikan apa yang kamu minati.... Berbagi itu sangat penting.... Kamu bisa berkenalan dengan orang lain yang punya kesamaan hobi... [yang] akan memperkaya hidupmu.... Lakukan dengan konsisten.... Jangan pedulikan mereka [yang tidak suka karena kamu terlihat mencolok]. Fokuskan energimu pada orang-orang yang peduli dan menyukai apa yang kamu lakukan."

Sampai jumpa dan terima kasih telah membaca.

1 komentar:

  1. wahh keren nih koleksi'a.. apalgi digivice'a.. mantep banget tuh
    Tolong umpan balik ya senpai
    http://ikubarunovryan.blogspot.com/2013/09/budaya-pop-jepang-fashion-jepang.html

    ReplyDelete

Silakan masukan komentar pada kotak teks yang tersedia, lalu klik tombol biru. Periksa kembali secara berkala untuk menemukan balasan terbaru. Anda mungkin tidak menerima notifikasi saat seseorang membalas komentar.