Navigasi

22 October 2019


Tutorial mengambil dan memproses foto panoramik 360°

Halo. Sudah lama sekali yah saya tidak mengirimkan sesuatu di blog Isamu no Heya ini. Hampir dua tahun lamanya sejak kiriman terakhir yang mengulas cara mendapatkan akhir cerita nomor 24 (Kok Jadi Gini) pada permainan seluler berjudul Salah Sambung.

Nah, sebelum benar-benar dua tahun berlalu begitu saja hingga akhirnya tidak ada kiriman selama tahun 2019 di blog ini (yang sangat disayangkan sempat kejadian tahun 2018 lalu), maka saya luangkan waktu sejenak untuk menuliskan kiriman ini.

Foto panoramik 360°



Logo foto 360°
Pada kesempatan kali ini, saya ingin membagikan koleksi foto panoramik 360 derajat yang sempat saya ambil. Bagi yang mengikuti saya (atau bahkan menjadi teman) di Facebook mungkin sudah melihat beberapa foto tersebut di album foto Facebook saya. Sayangnya, berbeda dengan video yang mempunyai tempat khusus untuk melihat semua unggahan pengguna, Facebook tidak menyediakan fitur ini untuk foto 360°. Maka dari itu, melalui kiriman ini saya mengumpulkannya agar mudah dilihat dan dibagikan.

Tak ketinggalan, saya juga menyertakan tutorialnya, sehingga kalian juga bisa mengambil foto yang dapat kalian lihat seolah-olah berada langsung di dalam lokasi ini. Mungkin ada para pembaca yang juga tertarik mencobanya sehingga bisa kalian unggah di Facebook atau Google Maps.

Bagi yang ingin mengunggah foto 360° di Google Maps, perlu diperhatikan beberapa hal berikut. Misalnya saja, kalian tentu tidak bisa mengunggah foto tersebut bila titik lokasi pengambilan foto tersebut saja belum tersedia di sana. Selain itu, Google juga memiliki aturan ketat yang harus kalian penuhi. Sesuai yang tertera pada halaman bantuannya, foto panoramik harus mencakup lingkaran penuh pada bidang horizontal dengan rasio aspek setidaknya 2:1. Artinya saat foto digulir ke ujung kanan, ia akan kembali lagi ke posisi di paling kiri. Jika tidak terpenuhi, tentu foto itu akan ditolak Google Maps.

Berbeda dengan Google Maps, aturan di Facebook lebih longgar. Kalian dapat dengan bebas mengunggah foto 360, bahkan untuk yang tidak selingkaran penuh sekalipun. Setidakberuntungnya, foto tetap akan dapat terkirim sebagai citra biasa (tanpa pemutar foto 360).

Bagaimana cara mengambil dan memproses foto 360


Beberapa dari kalian mungkin penasaran bagaimana cara mengambil foto panoramik 360 derajat seperti contoh-contoh di atas. Sebenarnya tidak sulit, dan dapat dilakukan bahkan dengan kamera ponsel sekali pun.

Pengambilan gambar
Saya sendiri menggunakan aplikasi Google Street View di ponsel Android saya untuk membuatnya. Setelah aplikasi terbuka, cukup pilih take photo sphere, lalu arahkan ponsel agar titik berwarna jingga berada di tengah layar, dan tahan beberapa detik hingga ponsel mengambil sebuah gambar. Dengan mengubah sudut pandang kamera baik secara horizontal maupun vertikal, ambil foto pada titik-titik jingga lainnya. Ulangi hal ini hingga foto yang diambil membentuk bola penuh. Setelah itu, aplikasi akan mulai menyusun dan merajut masing-masing gambar yang telah kita ambil dan menjadikannya sebagai foto panoramik.

Untuk lebih jelasnya, kalian juga bisa membaca panduannya di halaman bantuan Google Maps ini.

Pemrosesan gambar
Untuk menyuntingnya, kita dapat menggunakan aplikasi editor foto biasa seperti Adobe Photoshop yang biasa saya gunakan. Menyunting foto 360 sendiri cukup menantang. Permukaan yang aslinya rata akan tampil melengkung pada foto. Kesulitan lainnya adalah saat menyunting di pojok kiri dan kanan, karena kita sulit menyatukan dengan apa yang ada di ujung yang satunya. Selain itu, jika menggunakan kamera biasa, mungkin kita masih perlu memperbaiki kesalahan perajutan oleh aplikasi yang menyebabkan antar bingkai tersambung tidak pada tempat yang semestinya.

Untuk bacaan lebih lanjut, kalian dapat mengunjungi Facebook 360, sebuah situs tersendiri dari Facebook yang khusus memperkenalkan foto dan video 360. Panduan penyuntingan yang lebih mendalam pun dapat kalian baca di sini.

Penampilan gambar
Untuk menampilkan foto tersebut secara luring (offline) pada komputer saya biasa menggunakan aplikasi VideoPanoramas dari DevalVR. Menurut saya aplikasi ini sudah sangat mudah dipakai dibandingkan aplikasi lain sejenis. Namun kekurangannya adalah aplikasi ini tidak bisa membaca metadata khusus yang menandakan bahwa gambar yang diambil bukan selingkaran penuh. Akibatnya ujung kiri foto akan pasti disambungkan dengan ujung kanan foto. Jika para pembaca memiliki saran aplikasi yang lebih baik atau ingin berbagi mengenai aplikasi apa yang biasa kalian gunakan untuk menyunting foto 360, silakan tuliskan pada kolom komentar di bawah.

Untuk penampilan di ponsel, saya biasa mengimpor foto 360 yang telah diproses tersebut kembali ke aplikasi asal, Google Street View. Di sini, kalian bisa melihatnya secara langsung maupun menggunakan Virtual Reality headset (Cardboard dan sejenisnya) untuk merasakan sensasi seperti berada di dalam foto yang telah diambil tersebut.

Kembali ke pemrosesan, proses penyuntingan dan penampilan ini biasa perlu dilakukan hingga berulang kali sebelum akhirnya saya putuskan untuk mengunggahnya di Facebook atau Google Maps, sehingga hasilnya dapat seperti yang ada di atas.

Kumpulan foto panoramik 360°


Apakah kalian penasaran seperti apa sih foto panoramik 360° itu? Tanpa panjang lebar lagi, inilah beberapa foto yang pernah saya ambil, dikelompokkan berdasarkan negara di mana foto tersebut diambil. Saat kiriman ini dibuat, foto Planetarium Negara adalah yang paling banyak dilihat di Google Maps, dengan total lebih dari 170.000 tayangan (view).

Kebanyakan saya mengunggahnya di Google Maps sehingga kalian dapat mengunjungi tautan ini untuk melihat semua kontribusi foto saya di sana, termasuk foto biasa. Ya, sayangnya sama seperti Facebook (yang sudah saya jelaskan di atas), Google Maps juga tidak menyediakan halaman khusus untuk menampilkan foto panoramik saja.

CATATAN: Jika mungkin perlu mengeklik tombol "Lanjutkan membaca →" untuk melihat seluruh foto yang ada. Hal ini betujuankan untuk meringkankan peramban, karena menampilkan begitu banyak foto panoramik bersamaan dengan teks yang panjang dari kiriman blog sebelumnya akan memerlukan banyak sumber daya komputer.

🇮🇩 Indonesia

Digital Airport Hotel: Kamar (tidak penuh 360)

Pantai Kedonganan, Jimbaran
[Lihat di Facebook]

Payfazz: Ruang terbuka lantai 6
[Lihat di Facebook]

Stasiun MRT Blok M BCA: Peron
[Lihat di Facebook]

Stasiun MRT Istora Mandiri: Ruang kumpul (concourse)
[Lihat di Facebook]

Stasiun MRT Istora Mandiri: Peron

*Kos Cakra 49: Kamar sendiri


🇯🇵 Jepang

FromScratch TOKYO: Kamar
[Lihat di Facebook]

K's House Kyoto: Ruang bersama (lounge)
[Lihat di Facebook]

Miyama Hotel: Kamar
[Lihat di Facebook]

Shinjuku Gyoen
[Lihat di Facebook]


🇲🇾 Malaysia

Aster Hotel Bukit Jalil: Kamar
[Lihat di Facebook]

Caves Villa: Gua
[Lihat di Facebook]

Taman Botani Perdana: Danau
[Lihat di Facebook]

Taman Botani Perdana: Jalan
[Lihat di Facebook]

Planetarium Negara: Tangga masuk
[Lihat di Facebook]

Saya rasa sekian dulu kiriman kali ini. Semoga dapat menambah wawasan para pembaca Isamu no Heya sekalian. Dan, sampai jumpa di kiriman selanjutnya!

Kirimkan komentar

Silakan masukan komentar pada kotak teks yang tersedia, lalu klik tombol biru. Periksa kembali secara berkala untuk menemukan balasan terbaru. Anda mungkin tidak menerima notifikasi saat seseorang membalas komentar.