Navigasi

01 June 2020


Pengalaman menggunakan ponsel root, beserta alasannya

This post is also avaiable in English. The translated post can be found here: My rooted Android phone and how it came.

Halo, selamat datang kembali di Isamu no Heya. Kali ini, saya kembali dengan kiriman Pengalaman. Kalau biasanya di kategori pengalaman ini saya menceritakan perjalanan wisata saya, pada kesempatan ini saya akan menceritakan pengalaman saya selama menggunakan ponsel yang di-root.

Mengapa ponsel harus di-root?



Android
Sejak pertama kali kenal dengan ponsel Android, saya selalu menggunakan ponsel yang telah di-root hingga kini. Para pembaca mungkin bertanya-tanya mengapa. Saya juga beberapa kali mendapat pertanyaan serupa secara langsung. Termasuk dari rekan kerja juga yang sama-sama bekerja di perusahaan jasa keuangan yang biasa aplikasinya juga tidak dapat digunakan pada ponsel root. Sedikit bertentangan memang.

Pada akhirnya, root tetap saya pertahankan pada ponsel saya. Jika tidak, rasanya ponsel ini tidak dapat digunakan secara maksimal. Karena itulah saya harus menge-root ponsel yang saya miliki. Sepanjang pengalaman dengan ponsel root ini, saya selalu menemukan lebih banyak manfaat dibandingkan kerugiannya.

O ya, pada kiriman ini, saya tidak mengajarkan bagaimana cara menge-root ponsel ya, karena tentunya sudah banyak tutorialnya di luar sana yang bahkan penjelasannya dikhususkan untuk setiap tipe perangkat. Namun, saya akan membagikan manfaat-manfaat yang telah saya dapatkan sejauh ini.

Apa saja yang didapat dengan menge-root ponsel-ponsel tertentu?


Pertama-tama, mari kita mulai dengan alasan spesifik. Saya akan menjelaskan mengapa saya melakukannya ke setiap dan masing-masing ponsel yang saya miliki. Karena manfaat yang saya sebutkan ini bersifat khusus untuk perangkat tertentu, diharapkan kalian meneliti lebih lanjut apakah bisa diterapkan pada perangkat masing-masing.

  • Menghilangkan animasi boot
    Saya menerapkan ini pada ponsel Android pertama saya yang dipasarkan oleh salah satu operator CDMA waktu itu. Jadi, setiap menyalakan ponsel tersebut, logo operator tersebut ditampilkan cukup lama lengkap dengan animasi. Tentunya juga dengan kecerahan layar dan volume maksimal, walaupun ponsel sebelumnya dimatikan dalam mode diam (silent). Dengan root, saya berhasil menghilangkannya, sehingga ponsel dapat booting dengan lebih cepat.

  • Membuka kunci operator
    Berbeda dengan ponsel pertama, ponsel kedua saya kali ini tidak hanya mendukung CDMA, tapi sudah Dual SIM: slot 1 untuk CDMA, dan slot 2 untuk GSM. Namun ternyata, GSM-nya hanya dapat berfungsi jika di slot CDMA terpasang RUIM (SIM) dari operator tertentu. Nah, di sinilah root kembali berperan, dengan bantuan dari tutorial lain di Internet, saya berhasil membuka kunci tersebut.

  • Menghilangkan shutter sound
    Masih di ponsel saya yang kedua. Setiap mengambil foto, ponsel pasti mengeluarkan suara jepretan (shutter sound), dan sama seperti poin pertama, tanpa mempedulikan mode diam (silent) atau tidak. Hal ini katanya dibuat untuk alasan privasi sehingga pengguna tidak dapat memfoto secara diam-diam tanpa izin dari yang difoto. Pengaturan ini sering dijumpai pada ponsel merk Korea. Bagaimana pun juga, dengan root, batasan ini dapat dihilangkan.

  • Membuka jaringan 4G karena TKDN
    Sekarang kita beralih ke ponsel yang masih saya gunakan hingga kini. Ponsel ini memiliki fitur Dual SIM yang lebih terbuka. Tidak hanya bisa CDMA-GSM, namun bisa juga CDMA-CDMA, GSM-GSM, maupun GSM-CDMA. Satu kekurangannya, ternyata ia tidak lolos Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Artinya, saat digunakan dengan operator Indonesia, ponsel hanya bisa menggunakan jaringan 3G maksimal. Maka saya kembali melakukan root agar dapat menggunakan fitur 4G-nya.

Lalu, apa saja manfaat menge-root secara umum?


Nah, kalau di atas tadi kita sudah membahas manfaat khusus apa saja yang didapatkan secara spesifik pada masing-masing ponsel saya, sekarang saya akan membagikan manfaat root secara umum. Pastinya manfaat ini bisa kalian dapatkan, apa pun perangkat yang digunakan.

  • Menghapus aplikasi yang tidak diperlukan
    Ponsel Android umumnya sudah dilengkapi berbagai aplikasi Google bawaan yang sayangnya tidak bisa dibongkar/copot pemasangannya (uninstall). Tidak semuanya kalian pakai dan perlukan tentunya. Yuk bagikan di kolom komentar aplikasi bawaan apa saja yang tak kalian pakai.

    Saya sendiri tidak menggunakan aplikasi berikut di ponsel: Google Chrome (karena ada Firefox), GMail (karena ada Yahoo! Mail yang bahkan saya gunakan untuk masuk ke layanan Google seperti PlayStore, YouTube, dan Blogger Dulu sebelum GMail ada, email mana pun bisa digunakan untuk mendaftar), Drive dan Photos (karena ada OneDrive), Play Music, dan News Stand. Nah, dengan root, kalian bisa menghapusnya!

  • Menghapus cadangan factory reset yang tidak diperlukan
    Kalau kalian perhatikan, sebenarnya setiap ada pembaruan (update) aplikasi, versi lama (biasanya setidaknya versi saat pemutakhiran sistem operasi terakhir) akan dipertahankan di ponsel. Inilah salah satu penyebab semakin lama usia ponsel, semakin sedikit pula ruang penyimpanan yang tersisa meski tidak ada berkas berukuran besar ditambahkan ke dalamnya.

    Fitur bertujuan agar ponsel dapat dikembalikan ke setelan pabrik (factory reset) atau ke titik pemulihan (system restore) jika terjadi hal yang tak diinginkan. Nah, bagi yang ingin menukar risiko tidak dapat mengembalikan aplikasi ke versi bawaan (untuk pengaturan tetap dapat dipulihkan) dengan sisa ruangan penyimpanan, kalian bisa mewujudkannya dengan mengintegrasikan setiap pembaruan aplikasi ke sistem lewat root. Otomatis lebih banyak ruang tersedia untuk aplikasi dan permainan favorit, atau berkas berukuran besar seperti foto 360 pada bahasan sebelumnya.

  • Membuat cadangan aplikasi tanpa sinkronisasi
    Meski banyak aplikasi yang menggunakan sinkronisasi daring (online sync) untuk menyimpan data penggunanya, namun nyatanya tidak semua demikian. Sebut saja aplikasi yang memang tidak memerlukan koneksi Internet saat dipakai, seperti Jam atau Kalkulator, dan permainan yang memang sengaja dibuat luring (offline games). Data aplikasi ini tidak dapat dipindahkan ke perangkat baru, dan tentunya juga akan hilang saat dibongkar pemasangannya (uninstall).

    Dengan root, kalian dapat membuat cadangan aplikasi apapun, baik bawaan sistem maupun yang dipasang sendiri. Tidak perlu ragu lagi saat menghapus permainan (misalkan saat sudah mulai jenuh dengannya). Tidak perlu repot juga saat ingin mengganti ponsel. Saat kalian ingin menggunakannya kembali, baik di perangkat lama maupun baru, cukup pulihkan cadangan yang sebelumnya dibuat. Permainan akan dilanjutkan tepat di saat kalian meninggalkannya tanpa harus mengulang dari awal. Aplikasi pun akan sudah menggunakan pengaturan dan kustomisasi yang dibuat tanpa harus melakukan konfigurasi ulang.

Jadi, apakah ada kerugian root?



Layar pengaturan Automatic
Response/"UAC" pada aplikasi
Magisk Manager
Begitulah kurang lebih manfaat-manfaat yang bisa kalian dapatkan dan juga alasan mengapa saya selalu menge-root ponsel. Cukup banyak bukan? Tapi di balik beragam manfaat di atas, para pembaca mungkin juga bertanya-tanya apakah ada juga kerugiannya. Apalagi rasanya cukup banyak orang yang tidak menyarankannya ya.

Sebenarnya root ini mirip dengan fitur "Run as administrator" (Jalankan sebagai administrator) pada Windows. Aplikasi yang diberikan akses dapat mengubah, menambah, atau bahkan menghapus pengaturan sistem hingga data aplikasi lain yang seharusnya tidak dapat mereka akses.

Sama pula seperti "User Account Control" (Kontrol Akun Pengguna — UAC) di Windows, kalian dapat mengatur apakah konfirmasi manual (prompt) diperlukan setiap pertama kali aplikasi mencoba melakukan perubahan. Jika tidak diaktifkan, aplikasi apa pun, termasuk yang dengan niat jahat, akan selalu diberikan akses. Terdengar agak berbahaya bukan? Maka dari itu, sebaiknya hanya pasang aplikasi terpercaya pada ponsel root.

Selain ada risiko yang lebih besar dari aplikasi "jahat" ketika ponsel sudah di root tadi, kerugian lainnya juga bisa datang dari aplikasi "baik". Seperti yang sempat saya sebutkan di awal, beberapa aplikasi (biasanya perbankan) melarang penggunaannya pada ponsel yang telah di-root dengan alasan keamanan. Sebenarnya hal ini dapat disiasati sih, tapi saya simpan dulu pembahasannya untuk kiriman Isamu no Heya lainnya.

Akhir kata,


Demikianlah kiriman kali ini. Bagi yang belum mencoba root, apakah kalian menjadi tertarik setelah mengetahui hal ini? Yuk bagikan pendapat kalian di kolom komentar. Sedangkan bagi yang sempat ragu, saya harap kiriman ini dapat menambah wawasan dan mengobati keraguan kalian. Terakhir, bagi yang sudah mencoba, untuk apa saja kalian gunakan fitur root ini? Silakan bagikan pengalaman kalian di kolom komentar.

Sampai jumpa di kiriman selanjutnya!

Lihat pula

Kirimkan komentar

Silakan masukan komentar pada kotak teks yang tersedia, lalu klik tombol biru. Periksa kembali secara berkala untuk menemukan balasan terbaru. Anda mungkin tidak menerima notifikasi saat seseorang membalas komentar.